Tugas puisi m fawwaz muzakky

Sinopsis: Gol Terakhir untuk Ayah

Raka, seorang remaja berbakat berusia tujuh belas tahun, memikul beban berat di pundaknya saat memimpin timnya menuju final Liga Remaja di Stadion Wijaya. Namun, motivasi terbesarnya malam itu bukan sekadar trofi, melainkan janji kepada ayahnya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Ayahnya adalah mantan pemain bola hebat yang kariernya harus terhenti akibat cedera, dan kini ia menyaksikan impiannya diteruskan oleh sang putra.

Di tengah tensi pertandingan yang sengit dan skor imbang hingga menit-menit terakhir, Raka berjuang melawan kegelisahan hatinya. Namun, lewat sebuah momen ajaib yang mengingatkannya pada ajaran sang ayah, Raka berhasil mencetak gol kemenangan di menit ke-89.

Bukannya merayakan euforia di stadion, Raka justru bergegas kembali ke rumah sakit dengan seragam yang masih penuh peluh. Di sana, ia menemukan kemenangan yang sesungguhnya: bukan pada gemuruh sorak penonton, melainkan pada senyuman bangga dan binar mata ayahnya yang sempat menyaksikan gol terindah dalam hidupnya melalui layar kecil. Sebuah cerita tentang cinta, warisan impian, dan makna sejati dari sebuah kemenangan.

Puisi

Menit Terakhir di Stadion Wijaya

Di bawah lampu stadion yang berpijar terang,  

Ada gemuruh yang tak mampu meredam bimbang.  

Raka berdiri di rumput hijau yang luas,  

Membawa janji pada hati yang cemas.

Di sana, di balik dinding kaca yang sunyi,  

Sang ayah terbaring, dalam doa yang tak bertepi.  

Mantan sang juara yang kakinya dipatahkan takdir,  

Kini melihat mimpinya kembali lahir.

Menit delapan puluh sembilan, nafas mulai memburu,  

Dunia melambat, bayangan ayah datang menyapu.  

Bukan tentang piala yang berkilau di sana,  

Tapi tentang cinta yang tak butuh kata.

Sepatu menghantam bola, jaring pun bergetar,  

Sorak-sorai pecah, namun hati Raka bergetar.  

Ia berlari menembus malam, menjemput senyum,  

Meninggalkan panggung, memeluk sepi yang harum.

Di kamar rumah sakit, keringat dan air mata luruh,  

Melihat binar mata yang kini kembali utuh.  

Kemenangan itu bukan pada logam dan pita,  

Tapi pada bangga di mata ayah, sang legenda cinta.

1. Nada (Tone)

Dramatis-Melankolis namun Heroik

 2. Perasaan Penyair (Feeling)

Haru, Empati, dan Ketulusan

 3. Rima (Rhyme)

Menciptakan pola yang teratur

4. Tipografi

Terdiri dari 5 bait

 

Link musikalisasi lagu

https://gemini.google.com/share/7b41c6b6ea9d

Komentar

Postingan Populer