Roghib mushtofa gholwasy cerpen puisi lagu XI-2
CINCIN PUSAKA
karya:Roghib mushtofa Gholwasy
Semburat cahaya pagi di ufuk timur mulaiMenampakkan sinarnya.Dengan gagah cakrawalamerah membungsung naik menunjukkanwibawanya.Kabut-kabut tipis tampak bergelantunganpada kanopi pepohonan.Menyelimuti gunung dan perbukitan.Kupandangi sayup-sayup pemukiman mulaimenyeruak.Setelah semalaman aku berlatih aku masihterasa linu dekat pinggang.sesekali suara burung pipit bersahutan saling menyapa.udara sejuk terhirup.Akumenghela napas panjang.Sudah semingguaku tinggal di pemukiman ini.Hari ini adalah hari pertemuan paling penting.Pertemuan antara 5 pembesar suku dalam.3 diantara mereka adalah pengguna cincin pusaka.Mautak mau aku harus ikutserta dalam pertemuantersebut.Bukanlah aku pembesar suku bahkan akubukan asli suku dalam.Melainkan aku pengguna akupengguna satu dari lima cincin pusaka.
Hari itu pagi buta seorang pemuda telah bangundari tidurnya.Sayup-sayup suara qiroah syahdumenggetarkan hati.Suaranya membahana.Bergemamelewati gang-gang rumah.Para penduduk mulaiberanjak menuju surau,sekarang aku bangkit daritidurku dan tertatih tatih mengambil air wudhu lalukuambil pakaian sholat serta songkok hitam pemberiankakek Almarhum.Baru saja kulangkahkan kakiku keluarkamar.Tiba-tiba saja’’Astaghfurullah…”seseorangmengagetkanku.Hampirku terlompat karenaterkejut.Ternyata sosok ayah sudah berdiri didepanku.
“Sudah kau bangunkan adikmu Sultan?.Tanya ayah.
“Eee… belum yah”Jawabku sambil tersenyum .
“kau bangunkan Ridho segera!,kita berangkat kesurau”.Titah ayah
Sebenarnya kami tinggal di kota besar.Hanya saatliburan kami selalu mudik.Sepoerti biasa seusai sholatkami diajak membaca sewlembar dua lembar Alquran di bawah tiang besar pojok surau.Ayah kami yang mentashih.Sesekali bliau mencontohkanbacaan.Suaranya lembut membahana.Tajwidnya tepatkemudian kamik biasa mendiskusikan beberapahal.kebiasaan ini kami lakukan setiap tinggal di kampung kakek.Sebenarnya dahulu kakek kami yang mulai kebiasaan ini.Bliau dulu mengajak ayah,pakdeagus,dan anak anaknya,mengaji setelah sembahyangkemudian bliau menceritakan kisah-kisah dan nasihatataui membicarakan beberapa hal.
Pagi ini ayah memberitahu akan mengajak kemi kekota Batu.ia menyelesaikan sebuah projekdisana.Sebuah villa mewah tiga tingkat engan halamanseluas lapangan bola.Kami diajak melihat lihat villa itusebelum di sewa inapkan,Sebenarnya proyrk ini sudahjadi sebulan yang lalu,hanya beberapa bagian lagi yang perlu di cat.ayah memutuskan mengajak kami menginapbeberapa hari bersama keluarga dekat.Tak sabarmenunggu kami senang bukan kepalang
Tiga hari kemudian bertangkatlah aku bersamaRidho,dan bebrapa kerabat dekat dan sampailah kami setelah melewati jalan naik turun dengan udara dinginmenusuk tulang disana.Pohon-pohon pinus menjulangtinggi dengan kabut tipis menyelimuti hutan-hutanberpetak-petak sawah terhempas luas.Teraseringmenurunseperti tangga.Buah-buahan tomat sekepaltangan menandakan siap dipanen.Mobil fortuner 4x4 melesat perlahan memasuki halaman seluas lapanganbola.Udara dingin seketika menusuk tulang.Begitukeluar dari mobil cepat-cepat ku beranjak menuju villa tersebut.Dingin benar-benar ingin membekukanku.
Ridho yang biasa riang kini diam kedinginan.Embusan nafas seakan-akan mengelurakankabut.Bangunan itu tinggi dicat putih seprti kertasini.Tiang-tiangnya besar berpasak seakan-akan gagahmenyambut kami,didepannya terdapat taman kecilmelingkar dengan bunga-bunga berwarnakuning.Ditengahnya kolam kecil dengan pancuranair.Tertatih kunaiki tangga pualam.Ayah terlebih dahulumembuka dua daun pintu didepan.Ukurannya setinggi 2 meter.Berbahan kayu segon yang diukir indah.Diberiplitur coklat gelap.Mengkilat kilat.Tak kuasa menahandingin,aku pun cepat cepat memasuki ruangdepan.Disini lumayan luas.Tangga melintang di sisikanan ke atas lantai dua lantas disisi kiri kelantaitiga.Aku memasuki kamar untukku[setelah melihat lihatbagian bagian yang lain].lantas merebahkan diri di kasurspring bed empuk.Ku tarik sekimut tebal lantas terlelap.
Kuliaht lamat-lamat cincin dengan batu birumengkilat di tangan EEH! Sejak kapan pula aku pakaicincin?cincin itu menyala biru terang.Tubuhku terasaringans.Apa pula ini?sekejap aku pun bangun daritidur.Diluar udara sepertinya terlihat lebih hangat.Selarikcahaya matahari menenmbus sela sela jendelamembuat seberkas garis yang indah.
“Akhirnya bangun juga lo bang”.Suara Ridho yang tiba-tiba masuk kamar memecah keheningan.
“Gimana lagi.badan gue ga bisa gerak dingin tadi diluar”
“Turun yuk bang,main bola kek atau ngapain”
“Ayo deh”jawabku singkat.sambil beranjak dari tempattidur.
Ridho adalah adikku satu satunya.Seumuran tujuhbelas tahun.Lebih senang diam tak banyak bicara.Takkusangka,otak adikku ini cerdas.Dia memang kutu buku.Jika ia bosan biasanya ia ikut denganku.Tak jarangku ajak ia bermain voli,badminton,futsal[walau hanyamenonton]sesekali ia mencoba meskipun tak terlalulihai,tapi ia bisa mengikutinya.Terkadang kami jogging pagi bersama dikawasan car free day.Sambil meliirk-lirikmungkin saja ia ingin punya teman perempuan.Sekalidua kali pernah kuajak ia ketempat latihan karate.
“Gue aja yang jaga boal” teriakku sembari memasangposisi.
Ridho yang sedari tadi sudah memasang posisimengambil ancang-ancang memundurkan langkahlantas,menendang kencang”DHUUP!” tendangan yang akurat melintang sabit.Aku mengambil ancang –ancangmengokohkan kaki.siap menangkap.Akusalah,tendangan itu terlalu tinggidan sekarangmenembus semak belukar dibawah pepohonan.
“gue aja yang ambil bang”.Seru Ridho sembari menujusemak-semak.
Kupandangi dari kejauhan si Ridho sepertinya adasesuatu dibawah sana.perlahan kuturuini tanahmenurun dan benar saja ada ruangan di bawahini,seperti gua kecil.perlahan kumasuki lebih dalamkupijak bebabutan hingga ke dasar gua
“RIDHO….!” Teriakku memanggil.
Suaranya bergema-gema memnatul ke dinding goa dan bebatuan.Disini tidak terlalu gelap.Cahaya mataharimenerpa semak-semak menembus celah-celahdedaunan.Disisi lain goa ada seberkas cahaya.Mungkinitu pintu lain goa ini.Tiba-tiba aku melihat cahaya birudari jarak selemparan batu.Kudekati perlahan.Adasesuatau diantara bebatuan.Kudekati hinggajelas.Sebuah cincin dengan batu biru tua sedikitbercahaya.Sinarnya menerpa bebatuan sekitar.Seketikaaku teringat,ini adalah cincin di dalam mimpiku tadipagi.Aku meraih cincin itu dan menggegamnya.
“RIDHOO!!!” RIDHOO!! Teriakku sekali lagi,
suara bergema gema merambti gua,terpantul pantul di bebatuan aku pun keluar menuju hutan.Sinar mataharisilau menerpa wajah kanopi pepohonan terlihat.Tiba-tiba suara keras menggelegar dan seketikamenghimenjadi gelap kelabu awan-awan gelapbermunculan.Angin tertiup kencang mengacak-acakrambutku .Berjarak 30 meter.Terlihat jelas pusaranangina berpilin setinggi pohon pinus.Membuat daun-daun berterbangan.Pohon-pohon tinggi bergoyangkencang.sekuat tenaga kulangkahkan kaki menembustiupan angina.Berpegang pada bebatuan.Pusaranangina itu mengeluarkan seberkas cahaya kuning yang terus bertambah terang.Dan seketika “JEDHUBBH”…! Sebuah ledakan terdengar menyisakan suara merambatke seluruh hutan.Dan kali ini cincin di genggamankumenyala terang.Angin bertambah kencang seakan-akanberputar menyelimutiku .pandanganku hilang.cincin di genggamanku menyala semakin terang birumengkilat.Tubuhku terasa ringan dan seketika , ”ZAPP…”.
“TENG....TENG....TENG...”.suara lonceng sebesar anak sapi berdentang membahana.Menyusuri gang-gang penduduk. Penduduk suku bersorak ramai. Berdesak-desakan,rombongan terakhir telah datang. Suku gunung tinggi dengan ribuan prajurit berbaris rapi seperti bangunan kokoh. Memanjang lima ratus meter. Pasukan terdepan membawa pedang panjang melengkung dengan tameng-tameng besi mengkilat diterpa sinar matahari. Juga pasukan pemanah. Mereka menggunakan pakaian gelap menutupi wajah yang terluka.
Pertemuan itu akan segera dimulai. Pertemuan antara lima suku asli. Suku lembah dalam,suku hutan rimba,suku padang rumput,suku perbukitan dan suku gunung tinggi.3 diantara semua kepala suku adalah pemilik cincin pusaka. Dan aku adalah salah satu pengguna cincin pusaka. Cincin ini membawa ku ke negeri antah berantah. Aku bertahan semalaman di hutan gelap hingga orang-orang suku menemukanku. Aku terlanjur panik berlari bersembunyi di semak besar. Tubuhku bergetar ketakutan. Mereka berkata dengan bahasa asing. Tiba tiba cincin yang kukenakan bersinar.Dan saat itu aku memahami pembicaraan mereka. Mereka megatakan menemukan seseorang tersesat dan akan membawanya ke kepala suku yang mungkin bisa menolongnya. Aku pun keluar mengerahkan diri. Dan ketika mereke melihat cincin yang kukenakan. Mereka saling tatap mengatakan
“Tidak salah lagi!”
Aku pun mengikuti langkah mereka dan bertemu kepala suku. Suku lembah dalam,suku inti dari empat suku lain. Kepala suku itu ramah,ia menyambutku dan memberi jamuan. Lalu ia bercerita tentang orang suku dalam,Lima cinicin pusaka dan keris siamang dwi loka,keris kematian.
Dahulu pendiri suku memiliki dua putra yang mewarisi kesaktian sang ayah.Suatu ketika si bungsu merasa dengki karna si sulung dipilih menjadi kepala penerus oleh sang ayah. Si bungsu meengasingkan diri beberapa tahun membersihkan hatinya dan menempa sebuah pusaka skati dengan tangan kosng. Ia pun kembali ke tempat kelahirannya mendukung sang kakak membangun peradaban suku. Semua berjalan lancar hingga suatu hari si bungsu diam-diam mencuri pusaka sang ayah. Tak kuat menahan kekuatan yang sangat dahsyat,iapun gelap hati ingin membunuh pamannya. Yang terpulas tidur siap menghujam . Tiba-tiba tubuhnya dipukul keras hingga terpental belasan meter.seseorang tiba-tiba muncul menghadangnya. Ia menyadari bahwa kerisnya dicuri. Tetapi kekuatan dari keris yang dibuat dengan dendam itu membuatnya kehilangan kesadaran. Secepat kilat keris itu menancap di tubuh sang ayah
“JLEBH...”. Dan sang kepala suku terbangun sebab kegaduhan itu. Lelaki itu menerobos memasuki kamar pamannya. Tidak ada,ia pun segera mengejar pamannya yang berlari secepat kilat.
“SPLASH..”. Hingga menjauh dari pemukiman,dengan mudah lelaki itu menemukan kepala suku. Ia siap membunuhnya. Tetapi ia salah besar pamannya jauh lebih sakti dibanding ayah kandungnya, ia telah bertapa belasan ribu tahun sejak kecil. Dan membuat lima cincin pusaka.Tetapi anak itu merangsek maju dan ia kalah telak. Lelaki itu dikalahkan tetapi pusaka itu menghilang. Penyesalan terbesar si bungsu ialah membuat pusaka itu dengan rasa dendam.
Setelah ratusan ribu tahun berlalu semua berjalan damai. Suku-suku berkembang membuat peradaban baru. Kepala suku terus berganti turun temurun. Begitu juga cincin pusaka diwakilkan turun temurun. Kecuali dua cincin ia menghilang mencari tuannya sendiri. Hingga suatu ketika suatu suku berpasukan besar dengan postur yang besar menyerang suku bar-bar dan paling tak disangka pemimpin mereka memilih keris kegelapan.
#Tema:
petualangan bercampur spiritual dan mitologinusantara.
Tema besarnya adalah:
#Tokoh dan Penokohan:
Tokoh utama (Aku)
Ridho
Ayah
Kepala Suku Lembah Dalam
Antagonis (jahat)
#Alur
Alur campuran
#Latar
Tempat
#Waktu
#Suasana
#Sudut Pandang
Orang pertama (“aku”)
#Amanat
PUISI
Makna di Balik Perjalanan
Pagi menyentuh perbukitan
dengan cahaya yang perlahan tumbuh
kabut tipis menggantung
di daun dan dahan
Aku duduk diam
menghirup udara kampung
mendengar doa
dari surau kecil
Di halaman yang luas
bola berlari tanpa arah
di bawah pinus yang tinggi
dan langit yang dingin
Tiba-tiba sunyi datang
langkah yang biasa terdengar
menghilang
di balik semak
Hatiku gelisah
memanggil tanpa suara
menelusuri jejak
dengan napas tergesa
Kutemukan sosok itu
dengan luka kecil
dan senyum yang rapuh
Saat itu kusadari
kebersamaan
lebih berharga
dari perjalanan mana pun
Keluarga
adalah tempat pulang
di setiap takut
dan harap
https://aisonggenerator.io/share/b40facc9-2f5c-4099-bc9e-e9170b0229b7


Komentar
Posting Komentar