Akmal fadhlul insani 11 2 Puisi

Di SMA Nusantara, udara pagi tidak hanya membawa aroma nasi uduk, tapi juga bau busuk korupsi yang meruap dari berita nasional. Daffa, seorang siswa XI IPA, awalnya mencoba menutup mata, namun fakta tentang triliunan uang rakyat yang "dimakan" oleh tikus berdasi—si Pak Tua—membuat dinding-dinding kelas terasa menyesakkan. Di saat siswa dipaksa menghafal integritas, di luar sana kejujuran sedang sekarat dikhianati oleh penguasa.

 

Ketegangan memuncak di kelas Sosiologi ketika Bu Laras membedah borok ketimpangan sosial. Daffa menyadari bahwa korupsi bukan sekadar pencurian uang, melainkan pengkhianatan terhadap masa depan generasinya. Melalui selembar spanduk perlawanan di pagar sekolah, Daffa dan Fajar belajar bahwa membaca realitas jauh lebih mendesak daripada sekadar menghafal teori.

 

Mereka sadar, untuk menghancurkan rezim koruptor, mereka harus menjadi arsitek kepercayaan yang tangguh. Bukan dengan amukan di jalanan, melainkan dengan menajamkan integritas sebagai senjata utama untuk merombak struktur harapan yang telah hancur dan memastikan tidak ada lagi ruang bagi para pemakan uang rakyat di masa depan.

 

Kata kunci: korupsi, dimakan, ketimpangan, pagar sekolah, membaca realitas, kepercayaan, integritas, senjata utama, harapan, pemakan uang, rakyat

 

 

 

Judul: Api di Pagar Sekolah

 

di balik pagar sekolah kami mulai sadar

korupsi dimakan mereka yang paling lantang bicara

ketimpangan nyata, bukan sekadar wacana

kami membaca realitas, bukan hafalan semata

 

kepercayaan hampir mati

tertimbun janji yang basi

 

kami bukan diam, kami bukan lemah

integritas jadi senjata

hancurkan gelap, nyalakan arah

harapan tak lagi menyerah

 

dan jika dunia terus buta

kami yang akan membuka

tak ada ruang selamanya

untuk pemakan uang rakyat

 

https://www.aisongmaker.io/music/3b2a401e-c800-4c31-bd8a-bd4221db8f8b

 

Komentar

Postingan Populer