Nisvi Romadhona (puisi)
SINAPSIS
Puisi ini menceritakan seseorang yang
menikmati sore di rumah sambil melihat anakanak bermain layang-layang. Pemandangan itu
mengingatkannya pada masa kecil ketika ia
bermain layang-layang bersama kakaknya.
Ketika melihat layang-layang seorang anak
putus dan anak itu menangis, ia
menenangkannya. Dari peristiwa itu ia
menyadari bahwa seperti layang-layang yang
putus, dalam hidup manusia juga bisa
mengalami kehilangan, tetapi kita selalu bisa
bangkit dan memulai kembali.
ANALISIS:
1. Judul : Layang-Layang Putus
2. Jumlah bait : 4 bait
3. Jumlah larik : 4 larik setiap bait
4. Tema : Kenangan, kehilangan, dan harapan
4. Amanat : Ketika sesuatu hilang atau gagal,
kita tidak boleh menyerah karena selalu ada
kesempatan untuk memulai kembali.
PUISI
Layang-Layang Putus
Di langit sore yang tenang,
angin berbisik lembut di halaman.
Aku duduk sendiri di teras,menatap layang-layang menari di awan.
Kenangan lama datang perlahan,
tawa kecil bersama kakakku dulu.
Kami berlari di lapangan luas, mengejar mimpi yang terbang tinggi.
Namun satu layang-layang terlepas, talinya putus terbawa angin. Seorang anak menangis di bawah langit, seolah harapannya ikut jatuh.
Kuusap air matanya perlahan, "Jangan bersedih," bisikku lembut. Karena seperti hidup yang terus berjalan, layang-layang baru selalu bisa terbang kembali.


Komentar
Posting Komentar