M. Nuril Murtadlo TUGAS (Musikalisasi puisi)
Tirakat di Pondok
Angin malam berhembus pelan menyusup lewat jendela kecilkamar pondok. Di sudut ruangan, Rafi duduk memeluk lutut, memandang uang lima ribu rupiah yang terlipat rapi di tangannya. Hanya itu yang tersisa. Besok masih harus masukkelas, masih harus beli fotokopian, dan perutnya sejak sianghanya diisi teh hangat.sedangkan jadwal sambangan masihsatu minggu lagi.
Rafi menghela napas.
“Ya Allah…”. Tapi wajahnya tetap tenang. Ia ingat pesanKyai: “Santri itu tumbuh bukan karena kenyang, tapi karenadoa dan tirakat.”
Malam itu ia mengambil wudhu. Air wudhu terasa dinginmenusuk tulang, tapi hatinya hangat. Ia masuk musholla, lampu temaram, sajadah , dan aroma kayu yang lembab. Hanya ada satu santri lain yang sedang tidur bersandar di tiang, mungkin kelelahan.
Rafi berdiri, lalu shalat dua rakaat. Setelah salam, iamengangkat kedua tangannya lalu berkata “Jika rezeki itujauh, dekatkanlah ya Allah… Jika rezeki itu dekat”.
Keesokan paginya, perutnya mulai melilit. Teman-temannyasarapan bubur kacang ijo dari kantin. Rafi hanya duduk di emperan, meminum air putih. Ia sengaja tidak meminta, tidakmengeluh. Dalam dirinya hanya ada satu keyakinan: Allah tidak tidur.
Saat jam pelajaran pertama, ustadz tiba-tiba masuk denganmembawa map besar berisi lembar soal.
“Anak-anak, ini hasil seleksi tugas hafalan kemarin. Ternyataada beberapa santri yang nilai hafalannya bagus sekali. Kami ingin memberikan apresiasi.”
Rafi tidak terlalu memperhatikan. Ia merasa hafalannyaminggu lalu biasa saja.
Lalu namanya dipanggil.
“Rafi, maju.”
Rafi terkejut. Teman-temannya bertepuk tangan pelan. Ustadzmenyerahkan amplop kecil dan berkata,
“Ini hadiah sederhana dari madrasah. Untuk semangatmumenghafal.”
Rafi menunduk, menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Dalam perjalanan kembali ke tempat duduk, ia merasakansesuatu mengalir di dadanya—bukan uang, tapi ketenangan.
Saat istirahat, ia membuka amplop itu diam-diam. Di dalamnya ada uang seratus ribu rupiah.
seratus ribu Lebih dari cukup.
Jauh lebih dari yang ia minta tadi malam.
Rafi menutup mulut, menahan air mata.
“Terima kasih ya Allah… ternyata rezeki itu datang dari arahyang tidak disangka-sangka.”
Hari itu, ia membeli makan, membayar fotokopian, dan sisanya ia simpan. Sebelum kembali ke kamar, iamenyempatkan diri ke musholla yang sama, tempat ia berdoasemalam.
Sinopsis :
Tentang seorang santri bernama Rafi yang sedang menjalanikehidupan sederhana di pondok pesantren. Suatu malam, iamenyadari bahwa uang yang tersisa di tangannya hanya lima ribu rupiah, sementara kebutuhan untuk sekolah masih adadan jadwal sambangan dari orang tua masih seminggu lagi. Meski perutnya lapar dan keadaan serba terbatas, Rafi tidakmengeluh. Ia memilih bersabar dan berdoa kepada Allah di musholla pondok.
Dengan penuh keyakinan, Rafi menjalani hari berikutnyameskipun hanya minum air putih saat teman-temannyasarapan. Ia percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkanhamba-Nya. Saat pelajaran dimulai, ustadz tiba-tibamengumumkan hasil seleksi hafalan Al-Qur’an dan memberikan apresiasi kepada santri yang hafalannya baik.
Tak disangka, nama Rafi dipanggil untuk menerima hadiah. Iamendapatkan sebuah amplop berisi uang seratus ribu rupiah sebagai penghargaan atas usahanya dalam menghafal. Uang itu jauh lebih banyak dari yang ia harapkan. Rafi pun terharudan menyadari bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tidakdisangka-sangka.
Cerita ini menggambarkan nilai kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan kepada Tuhan, bahwa setiap usaha dan doa yang tulus akan mendapatkan balasan pada waktu yang tepat.
TOKOH : Rafi
SUDUT PANDANG: Orang ke 3
ALUR CERITA : Maju
LATAR SUASAN : Sedih,Haru, dan Bahagia
KATA KUNCI : Kehidupan,Sederhana,Orang
tua,Keyakinan,Rezeki,Usaha,Doa,Tulus
Jalan yang Tulus
Di jalan kecil kehidupan
langkahku sederhana,
hanya bekal doa dari orang tua
yang selalu mengalir dalam dada.
Tak ada kemewahan yang kupunya,
hanya keyakinan yang kupeluk erat.
Bahwa setiap usaha yang dijalani
tak akan pernah sia-sia di hadapan langit.
Aku belajar dari pagi yang sunyi,
dari lapar yang datang tanpa suara,
bahwa rezeki tidak selalu tampak dekat
namun selalu menemukan jalannya.
Di setiap sujud yang panjang
ada harapan yang kusematkan tulus,
biarlah langkah ini tetap berjalan
meski dunia terasa sempit.
Karena aku percaya,
di balik usaha dan doa yang jujur
Tuhan selalu menyiapkan jalan
bagi hati yang tetap tulus.
MUSIKALISASI :
https://www.musicful.ai/song/50066512839016455/


Komentar
Posting Komentar