Tsaqif Azmi Priyadi (Teks cerpen)
Senja di Sudut Kota Tua
Tetesan hujan yang baru reda menyisakan aroma tanah basah dan karamel dari kedai kopi di seberang jalan. Risa menyentuh permukaan gelas berisi latte dinginnya yang berembun, mencari kehangatan yang tidak bisa ia temukan dalam kopi itu. Ia duduk di bangku kayu panjang yang usang, menghadap ke arah jalanan berbatu di Kota Tua.
Risa adalah seorang arsitek muda. Ia datang ke kota ini bukan untuk bekerja, melainkan untuk lari. Lari dari gedung-gedung pencakar langit yang dingin, dari tumpukan blueprint yang tak berujung, dan terutama, dari bayangan sang mantan tunangan, yang seharusnya kini tengah bersamanya merencanakan pernikahan.
Tiba-tiba, sebuah suara yang berat dan renyah terdengar di sampingnya. "Kopi bukan solusi untuk lari. Hanya pengiring yang baik."
Risa menoleh. Di sebelahnya duduk seorang pria tua dengan topi baret biru lusuh dan jaket denim yang sudah memudar. Di pangkuannya, tergeletak sebuah buku sketsa yang tebal dan agak kotor.
"Maaf?" tanya Risa, sedikit terkejut.
Pria tua itu tersenyum, senyum yang melengkungkan kerutan-kerutan di sudut matanya. "Aku melihat caramu memegang gelas itu. Terlalu erat untuk orang yang sedang menikmati. Itu cengkeraman seorang pelari yang kelelahan." Ia kemudian membuka buku sketsa, memperlihatkan sebuah gambar cepat: sketsa bangku tempat mereka duduk, dengan sapuan pensil yang lincah dan berkarakter.
"Aku Tuan Anwar," katanya, "seorang pengarsip kenangan. Aku menggambar hal-hal yang orang ingin lupakan."
Risa terdiam sejenak, lalu ikut tersenyum tipis. "Aku Risa. Dan aku datang ke sini untuk melupakan banyak hal."
Tuan Anwar membalik halaman, kali ini menunjukkan sketsa sebuah menara jam tua yang runtuh. "Melupakan itu seperti mencoba membongkar bangunan yang sudah kau rancang sendiri, Nona Risa. Fondasinya terbuat dari ingatanmu. Semakin kau paksakan, semakin berantakan hasilnya."
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" Risa bertanya, suaranya terdengar lebih rapuh daripada yang ia inginkan.
"Kau harus membangun sesuatu yang baru di sampingnya," jawab Tuan Anwar, sambil menunjuk ke kejauhan, ke arah senja yang kini mulai mewarnai langit dengan palet ungu, jingga, dan emas.
"Lihatlah. Kota ini tidak mencoba meruntuhkan kenangan lamanya, kan? Ia hanya membangun yang baru di sekelilingnya. Toko-toko kopi modern di antara bangunan kolonial. Cinta yang baru di samping kisah yang sudah usai."
Ia mengulurkan sebuah pensil kepada Risa. "Ambil ini. Jangan lagi merancang gedung yang kokoh. Kali ini, rancanglah masa depanmu sendiri. Gambarlah tempat di mana kau ingin berada, bukan tempat di mana kau seharusnya berada."
Ia mengulurkan sebuah pensil kepada Risa. "Ambil ini. Jangan lagi merancang gedung yang kokoh. Kali ini, rancanglah masa depanmu sendiri. Gambarlah tempat di mana kau ingin berada, bukan tempat di mana kau seharusnya berada."
"Terima kasih, Tuan Anwar," bisik Risa.
Pria tua itu hanya mengangguk. "Ingat, Nona. Jangan lari. Berjalanlah, dan sesekali, berhentilah untuk menggambar."
Risa menoleh kembali ke gelas lattenya. Embunnya sudah mencair. Dinginnya tetap ada, tapi ia tidak lagi memegangnya dengan erat. Ia mengambil napas panjang, menatap senja di sudut Kota Tua yang kini terasa lebih hangat. Dengan pensil di tangan, dan buku sketsa Tuan Anwar yang ditinggalkan di sebelahnya, Risa mulai menarik garis pertama.
Garis yang bukan fondasi untuk lari, melainkan awal dari sebuah rancangan yang baru.


Komentar
Posting Komentar