Zahrina Firdauzi Nurudina Cerpen
TOKO KUE TENGAH MALAM
Aku baru saja keluar dari perpustakaan 24 jam yang ada di tengah kota, saat itu sudah memasuki pukul 00.04 malam. Aku merapatkan hoodieku sambil mempercepat langkahku, sebenarnya rumahku dengan perpustakaan itu tidak terlalu jauh, tetapi tetap saja, saat itu sudah sangat sepi. Sampai ketika aku tidak sengaja melihat sebuah cafe kecil dengan beberapa lampu gantung dengan sinar kuningnya yang remang. Aku melihat papan tulisan disana, "Hanya buka dari pukul 00.00 sampai pukul 01.00."
Aku mendadak berhenti.
Namun, aku tertarik masuk saat aku mengintip dalam cafe itu. Nuansa cafenya sangat berbeda dengan cafe yang biasa aku datangi. Aku otomatis mengecek jam di handphone.
00.08
"Yaampun... beneran baru buka jam segini?" gumamku.
Kemudian aku membuka pintu cafe itu dan tercium aroma vanilla, teh, dan berbagai makanan manis yang membuatku tenang.
Saat masuk ke dalam cafe itu, aku hanya sekedar untuk membeli kue, untuk merayu ibuku agar tidak memarahiku karena pulang sangat malam.
Dibalik meja kasir seseorang menyambutku, bisa dibilang seorang barista.
"Selamat datang, nona Lily." ucapnya sambil sibuk dengan menu kue yang sedang dia buat.
Tetapi aku heran, bagaimana seorang barista itu mengetahui namaku?
"Bagaimana kamu tau namaku itu Lily?" tanyaku bingung.
Barista itu tersenyum kemudian memberikan satu menu kue dengan nama unik, Echo Crumble.
Aku memandangi barista itu dengan bingung, padahal aku belum memesan menu apapun.
"Cafe ini hanya memiliki satu menu, yaitu Echo Crumble, rasanya seperti kamu kembali ke masa lalu."
Aku mendercit semakin bingung, "Maksudnya?"
Barista itu menjawab, "Nanti kamu akan tahu sendiri, yang terpenting pikirkan dulu... momen saat kamu ingin kembali ke masa lalu, kejadian apa yang ingin kamu perbaiki kembali. Lalu makan satu gigit Echo Crumble ini."
Aku akhirnya menurut. Dan mulai mengingat kejadian di masa lalu itu. Kemudian aku memakan satu gigitan Echo Crumble.
Ada satu kejadian yang selalu aku tahan-tahan, kenangan bersama Junar, laki-laki asal Bandung yang tiba-tiba menghilang didalam kehidupanku.
Begitu gigitan kecil itu menyentuh lidahku, ada rasa manis yang pertama kali muncul, manis yang lembut, bukan yang menusuk. Tetapi setelahnya, ada sensasi aneh, seperti udara di sekitarku ikut bergetar pelan. Aroma vanilla yang tadi menenangkan berubah sedikit lebih pekat, dan lampu-lampu gantung di langit-langit cafe tampak bergoyang padahal tidak ada angin.
Aku menutup mata.
Dan saat membuka mata.
Cafenya hilang.
Digantikan oleh angin dingin Bandung, suara riuh kecil saat sore hari, dan… lampu-lampu kota yang kulihat dari sebuah halte tua.
Aku mengedipkan mataku cepat.
Ini... benar-benar Bandung.
Di halte ini.
Halte kecil tempat aku dan Junar terakhir kali bertemu sebelum dia sepenuhnya menghilang dari kehidupanku.
Angin Bandung menusuk halus ke pipiku. Bahkan bau hujan masih sama seperti yang aku ingat. Aku melangkah pelan keluar dari halte, dan saat itu… aku baru sadar. Aku memakai seragam SMA.
Nafasku tercekat.
“A-apa…” Aku menyentuh wajahku. Rambutku masih panjang seperti dulu. Tas ranselku model lama. Bahkan sepatu putih yang dulu paling sering kotor pun masih kupakai.
“Berhasil…?” gumamku lirih, hampir tidak percaya.
Tetapi tujuan utamaku bukanlah untuk bernostalgia. Namun, aku kembali ke sini untuk satu alasan.
Junar.
Di tempat ini, dan sore ini adalah waktu di mana Junar terakhir kali menemuiku sebelum semuanya berubah. Sebelum dia pergi. Sebelum aku menyesal tidak menanyakan apa pun, padahal aku tahu dia sedang berusaha bicara.
Aku berdiri di tempat yang sama seperti dulu. Tanganku dingin. Jantungku berdetak terlalu cepat, seolah tubuhku tahu apa yang akan terjadi.
Dan benar saja.
Dari kejauhan, aku mendengar langkah kaki yang begitu familiar. Pelan dan sedikit menyeret di akhir, kebiasaan dia kalau sedang gugup.
Aku tidak perlu melihat untuk tahu itu siapa.
Itu benar-benar Junar.
Dia muncul dari balik tikungan, mengenakan hoodie hitamnya yang paling kusukai. Rambutnya sedikit berantakan. Dan mata coklat itu, mata yang selalu tenang tapi sore itu terlihat gelisah.
Aku merasa lututku goyah.
“Lily?” suaranya sama persis seperti yang kurindukan.
Aku menelan ludah, air mataku hampir jatuh karena suara itu.
“A-aku…”
Ingin memarahi dia.
Ingin bilang kalau aku marah… dan juga sangat merindukannya.
Ingin tanya kenapa waktu itu dia pergi.
Tapi Echo Crumble mengirimku ke sini bukan untuk menangis.
Aku harus melakukan sesuatu yang dulu tidak berani kulakukan.
“Junar… aku rindu.”
Dia langsung terdiam.
Benar. Inilah momen yang dulu membuatnya menghilang.
“Lily…” suara Junar pelan, patah.
“Aku harus pergi malam ini.”
Hatiku seolah ditusuk.
Ini lagi. Kalimat yang sama.
Kalimat yang menandai akhir kami.
Tapi kali ini… aku tidak akan diam.
“Kenapa?” tanyaku.
Aku mengulang masa lalu, tapi aku memilih jawaban yang berbeda.
Junar terkejut.
Dulu, aku hanya tersenyum dan berkata “Oke… hati-hati, ya.”
Dulu... aku tidak berani menahan siapapun.
Sekarang aku menatap matanya tanpa mundur.
“Kamu mau kemana? Kalo kamu pergi... aku sama siapa?”
"Kamu bakalan kembali kan, Jun?"
Angin berhenti.
Suara jalanan pelan.
Seolah dunia berhenti menunggu jawabannya.
Junar menunduk, menggenggam ujung hoodie-nya.
“Aku… nggak janji.”
Suara itu pecah.
“Tapi aku... akan berusaha kembali untuk nemuin kamu lagi Li.”
Aku membeku.
Ini… jawaban yang tidak pernah kudapat di masa asliku.
Aku menatapnya, pelan.
“Junar…”
Aku mendekat satu langkah.
"Aku nggak mau kamu pergi...”
Junar menatapku lama. Terlalu lama.
“Lily…”
Dia menarik napas pelan, suaranya goyah.
“Aku tahu kamu nggak mau aku pergi. Aku juga nggak mau ninggalin kamu.”
Kata itu membuat dadaku langsung sesak.
“Tapi aku nggak punya pilihan,” lanjutnya.
“Kadang hidup narik kita ke arah yang kita nggak mau sama sekali.”
Dia tersenyum kecil, senyum sedih yang bahkan waktu itu tidak sempat kutangkap.
“Aku cuma nggak mau kamu ikut terseret ke dalam masalahku.”
Aku menatapnya.
Dan tiba-tiba, semuanya terasa terlalu kejam.
Waktu. Takdir. Kepergian.
Dan sekarang, aku kembali justru untuk menghadapi kenyataan yang dulu tidak pernah selesai.
Perlahan, aku mengulurkan tangan dan menarik lengan hoodie-nya.
“Junar, aku nggak peduli masalah kamu,” bisikku.
“Aku cuma peduli kamu pergi tanpa bilang apa pun. Itu yang bikin aku hancur.”
Junar membeku.
Pertama kalinya, aku melihat air di matanya.
Dia bukan tipe yang gampang rapuh. Tapi hari itu… dia berbeda.
“Lily…”
Suaranya hanya setipis udara.
“Kamu bakal baik-baik aja tanpa aku.”
Aku menggeleng.
“Kamu nggak tau itu.”
Dia ingin menjawab, tapi sebelum sempat, sesuatu aneh mulai terjadi.
Udara di sekitarku bergetar.
Halte yang tadi kukenal dengan jelas mulai berbayang, seperti lukisan yang terkena hujan.
Aku merasakan sensasi hangat merambat di ujung jariku, seperti ada yang menarikku kembali.
Tidak.
Aku belum selesai.
“Junar…”
Aku memegang kedua pundaknya, suaraku mulai gemetar.
“Kalau aku ke masa depan… kalau aku kembali dan kamu nggak ada… apa aku boleh tetap nunggu?”
Dia menatapku dalam-dalam.
Penuh keraguan.
Penuh ketakutan.
Penuh rindu.
Lalu, perlahan… dia mengangguk.
“Kalau kamu nunggu…”
Junar menatapku sangat dalam.
“Aku akan cari jalan untuk kembali.”
Dadaku langsung pecah.
Tapi saat itulah, tubuhku mendadak goyah dan pandanganku terasa kabur.
BIP.
Suara kecil itu lagi.
Waktuku bersama Junar hampir habis.
“Junar!” aku memanggil, panik.
Tubuhnya mulai memudar, begitu juga tubuhku.
Aku mencoba menggenggam erat tangannya, tetapi jari-jari kami menembus satu sama lain seperti kabut.
“Lily.”
Suara Junar mulai samar.
“Kalau aku nggak nemu kamu nanti…”
"Temuin aku. Di tempat pertama kita ketemu.”
“Junar!”
Gelap.
Dunia runtuh.
Aku terlempar.
Udara segar pagi hari memenuhi hidungku. Aku terbangun. Namun anehnya, aku bukan berada di halte tua itu, bukan cafe aneh yang buka saat tengah malam itu, namun aku berada di kamarku.
Aku kembali.
Dan aku bermimpi mengobrol bersama Junar di masa lalu.
Kemudian tiba-tiba.
“Lily! Tolong bukain pintu! Ada tamu!” suara mama dari lantai bawah terdengar kesal, memanggil namaku dengan sangat keras.
“Astaga…” gumamku sambil mengusap wajah. Aku baru saja membuka mata, tubuhku masih berat seolah mimpi barusan… bukan sekadar mimpi. Terlalu nyata dan terlalu hidup.
Dengan malas aku bangkit dari kasur, masih memproses setiap momen percakapanku dengan Junar yang masih terngiang-ngiang di kepalaku.
Tapi sebelum sempat menyentuh gagang pintu kamar, langkahku mendadak terhenti. Di meja belajarku, ada sebuah kue kecil. Kue yang hanya memiliki satu gigitan di pinggirnya. Kue yang seharusnya tidak ada di dunia nyata.
Aku perlahan mendekat. Dan aroma vanilla langsung menyelinap pelan, aroma yang sama persis seperti di cafe itu.
Jantungku berdegup kencang.
“Ini… Echo Crumble…?”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering.
Kalau barusan cuma mimpi…
kenapa kuenya ada di sini?
Analisis struktur dan kebahasaan:
1. Tema : Penyesalan masa lalu dan keinginan untuk memperbaikinya. Tokoh utama, Lily, tanpa sadar kembali ke kenangan yang melibatkan seseorang yang pernah penting dalam hidupnya (Junar).
2. Tokoh dan Penokohan
Lily : Penasaran, sensitif, dan masih menyimpan kenangan yang kuat tentang seseorang dari masa lalunya.
Junar : Pendiam, misterius, menyimpan sesuatu, dan membuat Lily bertanya-tanya.
Barista Misterius : Tau banyak hal.
Mama Lily : Disiplin.
3. Latar
Latar Tempat : Perpustakaan 24 jam, jalanan kota, cafe misterius, dan rumah Lily.
Latar Waktu : Tengah malam pukul 00.04 sampai 00.08, sore hari, pagi hari.
Latar Suasana: Sunyi, misterius, sedikit tegang, lalu beralih ke suasana rumah yang lebih nyata dan hangat.
4. Alur / Plot : maju mundur
5. Konflik : Pertentangan dalam diri Lily, antara dirinya di masa kini dan kenangan yang masih menahannya di masa lalu (Junar). Ia ingin menuntaskan hal yang belum selesai.
6. Amanat
Masa lalu tidak selalu hilang; terkadang kita perlu berdamai dengan diri sendiri.
Menyesal itu manusiawi, tetapi keberanian untuk menghadapi kenangan adalah hal penting.
Jangan lari dari hal yang belum selesai.
Tahap Alur:
1. Pengenalan : Lily pulang larut malam dari perpustakaan dan melihat café misterius yang hanya buka pukul 00.00–01.00.
2. Pemicu Konflik : Di dalam café, barista mengenali namanya dan memberikan kue “Echo Crumble” yang bisa membawa kembali ke masa lalu.
3. Menuju Klimaks : Lily memakan kue itu dan kembali ke masa lalu.
4. Klimaks : Lily akhirnya mengungkapkan perasaannya dan menanyakan alasan Junar pergi, sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan.
5. Antiklimaks : Waktu time travel habis, dunia mulai menghilang dan Lily kembali ke masa sekarang.
6. Penyelesaian : Lily terbangun di kamar, mengira semuanya mimpi, tetapi menemukan Echo Crumble yang sudah tergigit, pertanda bahwa kejadian itu benar.
Struktur Kebahasaan:
1. Penggunaan Kata Ganti Orang Pertama : Cerita menggunakan sudut pandang aku.
2. Kalimat Deskriptif : “Lampu gantung dengan sinar kuningnya yang remang.” dan “Aroma vanilla, teh, dan berbagai makanan manis.”
3. Majas / Gaya Bahasa
Personifikasi: “aroma vanilla yang menenangkan”
Metafora halus: “jantungku mencelos”
Hiperbola ringan: “terasa sangat nyata”
4. Dialog : “Selamat datang, nona Lily.” dan “Bagaimana kamu tahu namaku?”
5. Penggunaan Kata Konkret : Kue kecil, pintu, meja, hoodie, lampu gantung.


Komentar
Posting Komentar