Roghib mushtofa gholwasy (teks cerpen)

 CINCIN PUSAKA

karya:Roghib mushtofa Gholwasy

Semburat cahaya pagi di ufuk timur mulai Menampakkan sinarnya.Dengan gagah cakrawala merah membungsung naik menunjukkan wibawanya.Kabut-kabut tipis tampak bergelantungan pada kanopi pepohonan.Menyelimuti gunung dan perbukitan.Kupandangi sayup-sayup pemukiman mulai menyeruak.Setelah semalaman aku berlatih aku masih terasa linu dekat pinggang.sesekali suara burung pipit bersahutan saling menyapa.udara sejuk terhirup.Aku menghela napas panjang.Sudah semingguaku tinggal di pemukiman ini.Hari ini adalah hari pertemuan paling penting.Pertemuan antara 5 pembesar suku dalam.3 diantara mereka adalah pengguna cincin pusaka.Mau tak mau aku harus ikutserta dalam pertemuan tersebut.Bukanlah aku pembesar suku bahkan aku bukan asli suku dalam.Melainkan aku pengguna aku pengguna satu dari lima cincin pusaka.

Hari itu pagi buta seorang pemuda telah bangun dari tidurnya.Sayup-sayup suara qiroah syahdu menggetarkan hati.Suaranya membahana.Bergema melewati gang-gang rumah.Para penduduk mulai beranjak menuju surau,sekarang aku bangkit dari tidurku dan tertatih tatih mengambil air wudhu lalu kuambil pakaian sholat serta songkok hitam pemberian kakek Almarhum.Baru saja kulangkahkan kakiku keluar kamar.Tiba-tiba saja’’Astaghfurullah…”seseorang mengagetkanku.Hampirku terlompat karena terkejut.Ternyata sosok ayah sudah berdiri didepanku.

“Sudah kau bangunkan adikmu Sultan?.Tanya ayah.

“Eee… belum yah”Jawabku sambil tersenyum .

kau bangunkan Ridho segera!,kita berangkat ke surau.Titah ayah

Sebenarnya kami tinggal di kota besar.Hanya saat liburan kami selalu mudik.Sepoerti biasa seusai sholat kami diajak membaca sewlembar dua lembar Alquran di bawah tiang besar pojok surau.Ayah kami yang mentashih.Sesekali bliau mencontohkan bacaan.Suaranya lembut membahana.Tajwidnya tepat kemudian kamik biasa mendiskusikan beberapa hal.kebiasaan ini kami lakukan setiap tinggal di kampung kakek.Sebenarnya dahulu kakek kami yang mulai kebiasaan ini.Bliau dulu mengajak ayah,pakde agus,dan anak anaknya,mengaji setelah sembahyang kemudian bliau menceritakan kisah-kisah dan nasihat ataui membicarakan beberapa hal.

Pagi ini ayah memberitahu akan mengajak kemi ke kota Batu.ia menyelesaikan sebuah projek disana.Sebuah villa mewah tiga tingkat engan halaman seluas lapangan bola.Kami diajak melihat lihat villa itu sebelum di sewa inapkan,Sebenarnya proyrk ini sudah jadi sebulan yang lalu,hanya beberapa bagian lagi yang perlu di cat.ayah memutuskan mengajak kami menginap beberapa hari bersama kerabat dekat.Tak sabar menunggu kami senang bukan kepalang

Tiga hari kemudian bertangkatlah aku bersama Ridho,dan bebrapa kerabat dekat dan sampailah kami setelah melewati jalan naik turun dengan udara dingin menusuk tulang disana.Pohon-pohon pinus menjulang tinggi dengan kabut tipis menyelimuti hutan-hutan berpetak-petak sawah terhempas luas.Terasering menurunseperti tangga.Buah-buahan tomat sekepal tangan menandakan siap dipanen.Mobil fortuner 4x4 melesat perlahan memasuki halaman seluas lapangan bola.Udara dingin seketika menusuk tulang.Begitu keluar dari mobil cepat-cepat ku beranjak menuju villa tersebut.Dingin benar-benar ingin membekukanku.

Ridho yang biasa riang kini diam kedinginan.Embusan nafas seakan-akan mengelurakan kabut.Bangunan itu tinggi dicat putih seprti kertas ini.Tiang-tiangnya besar berpasak seakan-akan gagah menyambut kami,didepannya terdapat taman kecil melingkar dengan bunga-bunga berwarna kuning.Ditengahnya kolam kecil dengan pancuran air.Tertatih kunaiki tangga pualam.Ayah terlebih dahulu membuka dua daun pintu didepan.Ukurannya setinggi 2 meter.Berbahan kayu segon yang diukir indah.Diberi plitur coklat  gelap.Mengkilat kilat.Tak kuasa menahan dingin,aku pun cepat cepat memasuki ruang depan.Disini lumayan luas.Tangga melintang di sisi kanan ke atas lantai dua lantas disisi kiri kelantai tiga.Aku memasuki kamar untukku[setelah melihat lihat bagian bagian yang lain].lantas merebahkan diri di kasur spring bed empuk.Ku tarik sekimut tebal lantas terlelap.

Kuliaht lamat-lamat cincin dengan batu biru mengkilat di tangan EEH! Sejak kapan pula aku pakai cincin?cincin itu menyala biru terang.Tubuhku terasa ringans.Apa pula ini?sekejap aku pun bangun dari tidur.Diluar udara sepertinya terlihat lebih hangat.Selarik cahaya matahari menenmbus sela sela jendela membuat seberkas garis yang indah.

“Akhirnya bangun juga lo bang”.Suara Ridho yang tiba-tiba masuk kamar memecah keheningan.

“Gimana lagi.badan gue ga bisa gerak dingin tadi diluar”

“Turun yuk bang,main bola kek atau ngapain”

“Ayo deh”jawabku singkat.sambil beranjak dari tempat tidur.

Ridho adalah adikku satu satunya.Seumuran tujuh belas tahun.Lebih senang diam tak banyak bicara.Tak kusangka,otak adikku ini cerdas.Dia memang kutu buku.Jika ia bosan biasanya ia ikut denganku.Tak jarang ku ajak ia bermain voli,badminton,futsal[walau hanya menonton]sesekali ia mencoba meskipun tak terlalu lihai,tapi ia bisa mengikutinya.Terkadang kami jogging pagi bersama dikawasan car free day.Sambil meliirk-lirik mungkin saja ia ingin punya teman perempuan.Sekali dua kali pernah kuajak ia ketempat latihan karate.

“Gue aja yang jaga boal” teriakku sembari memasang posisi.

Ridho yang sedari tadi sudah memasang posisi mengambil ancang-ancang memundurkan langkah lantas,menendang kencang”DHUUP!” tendangan yang akurat melintang sabit.Aku mengambil ancang –ancang mengokohkan kaki.siap menangkap.Aku salah,tendangan itu terlalu tinggidan sekarang menembus semak belukar dibawah pepohonan.

gue aja yang ambil bang”.Seru Ridho sembari menuju semak-semak.

Kupandangi dari kejauhan si Ridho sepertinya ada sesuatu dibawah sana.perlahan kuturuini tanah menurun dan benar saja ada ruangan di bawah ini,seperti gua kecil.perlahan kumasuki lebih dalam kupijak bebabutan hingga ke dasar gua

“RIDHO….!” Teriakku memanggil.

Suaranya bergema-gema memnatul ke dinding goa dan bebatuan.Disini tidak terlalu gelap.Cahaya matahari menerpa semak-semak menembus celah-celah dedaunan.Disisi lain goa ada seberkas cahaya.Mungkin itu pintu lain goa ini.Tiba-tiba aku melihat cahaya biru dari jarak selemparan batu.Kudekati perlahan.Ada sesuatau diantara bebatuan.Kudekati hingga jelas.Sebuah cincin dengan batu biru tua sedikit bercahaya.Sinarnya menerpa bebatuan sekitar.Seketika aku teringat,ini adalah cincin di dalam mimpiku tadi pagi.Aku meraih cincin itu dan menggegamnya.

“RIDHOO!!!” RIDHOO!! Teriakku sekali lagi,

suara bergema gema merambti gua,terpantul pantul di bebatuan aku pun keluar menuju hutan.Sinar matahari silau menerpa wajah kanopi pepohonan terlihat.Tiba-tiba suara keras menggelegar dan seketika langit menjadi gelap kelabu awan-awan gelap bermunculan.Angin tertiup kencang mengacak-acak rambutku .Berjarak 30 meter.Terlihat jelas pusaran angina berpilin setinggi pohon pinus.Membuat daun-daun berterbangan.Pohon-pohon tinggi bergoyang kencang.sekuat tenaga kulangkahkan kaki menembus tiupan angina.Berpegang pada bebatuan.Pusaran angina itu mengeluarkan seberkas cahaya kuning yang terus bertambah terang.Dan seketika “JEDHUBBH”…! Sebuah ledakan terdengar menyisakan suara merambat ke seluruh hutan.Dan kali ini cincin di genggamanku menyala terang.Angin bertambah kencang seakan-akan berputar menyelimutiku .pandanganku hilang.cincin di genggamanku menyala semakin terang biru mengkilat.Tubuhku terasa ringan dan seketika , ”ZAPP…”.

 

“TENG....TENG....TENG...”.suara lonceng sebesar anak sapi berdentang membahana.Menyusuri gang-gang penduduk. Penduduk suku bersorak ramai. Berdesak-desakan,rombongan terakhir telah datang. Suku gunung tinggi dengan ribuan prajurit berbaris rapi seperti bangunan kokoh. Memanjang lima ratus meter. Pasukan terdepan membawa pedang panjang melengkung dengan tameng-tameng besi mengkilat diterpa sinar matahari. Juga pasukan pemanah. Mereka menggunakan pakaian gelap menutupi wajah.

Pertemuan itu akan segera dimulai. Pertemuan antara lima suku asli. Suku lembah dalam,suku hutan rimba,suku padang rumput,suku perbukitan dan suku gunung tinggi.3 diantara semua kepala suku adalah pemilik cincin pusaka. Dan aku adalah salah satu pengguna cincin pusaka. Cincin ini membawa ku ke negeri antah berantah. Aku bertahan semalaman di hutan gelap hingga orang-orang suku menemukanku. Aku terlanjur panik berlari bersembunyi di semak besar. Tubuhku bergetar ketakutan. Mereka berkata dengan bahasa asing. Tiba tiba cincin yang kukenakan bersinar.Dan saat itu aku memahami pembicaraan mereka. Mereka megatakan menemukan seseorang tersesat dan akan membawanya ke kepala suku yang mungkin bisa menolongnya. Aku pun keluar mengerahkan diri. Dan ketika mereke melihat cincin yang kukenakan. Mereka saling tatap mengatakan

“Tidak salah lagi!”

Aku pun mengikuti langkah mereka dan bertemu kepala suku. Suku lembah dalam,suku inti dari empat suku lain. Kepala suku itu ramah,ia menyambutku dan memberi jamuan. Lalu ia bercerita tentang orang suku dalam,Lima cinicin pusaka dan keris siamang dwi loka,keris kematian.

Dahulu pendiri suku memiliki dua putra yang mewarisi kesaktian sang ayah.Suatu ketika si bungsu merasa dengki karna si sulung dipilih menjadi kepala penerus oleh sang ayah. Si bungsu meengasingkan diri beberapa tahun membersihkan hatinya dan menempa sebuah pusaka skati dengan tangan kosng. Ia pun kembali ke tempat kelahirannya mendukung sang kakak membangun peradaban suku. Semua berjalan lancar hingga suatu hari si bungsu diam-diam mencuri pusaka sang ayah. Tak kuat menahan kekuatan yang sangat dahsyat,iapun gelap hati ingin membunuh pamannya. Yang terpulas tidur siap menghujam . Tiba-tiba tubuhnya dipukul keras hingga terpental belasan meter.seseorang tiba-tiba muncul menghadangnya. Ia menyadari bahwa kerisnya dicuri. Tetapi kekuatan dari keris yang dibuat dengan dendam itu membuatnya kehilangan kesadaran. Secepat kilat keris itu menancap di tubuh sang ayah

“JLEBH...”. Dan sang kepala suku terbangun sebab kegaduhan itu. Lelaki itu menerobos memasuki kamar pamannya. Tidak ada,ia pun segera mengejar pamannya yang berlari secepat kilat.

“SPLASH..”. Hingga menjauh dari pemukiman,dengan mudah lelaki itu menemukan kepala suku. Ia siap membunuhnya. Tetapi ia salah besar pamannya jauh lebih sakti dibanding ayah kandungnya, ia telah bertapa belasan ribu tahun sejak kecil. Dan membuat lima cincin pusaka.Tetapi anak itu merangsek maju dan ia kalah telak. Lelaki itu dikalahkan tetapi pusaka itu menghilang. Penyesalan terbesar si  bungsu ialah membuat pusaka itu dengan rasa dendam.

Setelah ratusan ribu tahun berlalu semua berjalan damai. Suku-suku berkembang membuat peradaban baru. Kepala suku terus berganti turun temurun. Begitu juga cincin pusaka diwakilkan turun temurun. Kecuali dua cincin ia menghilang mencari tuannya sendiri. Hingga suatu ketika suatu suku berpasukan besar dengan postur yang besar menyerang suku bar-bar dan paling tak disangka pemimpin mereka memilih keris kegelapan.

Komentar

Postingan Populer