Robiiatun Nikmah Al Auliyah (teks cerpen)
Putus atau Terus
“Alhamdulillah nak, kamu lolos tahap pendaftaran. Jangan lupa minggu depan kamu harus mengikuti tes masuk sekolah.” Begitulah ucapan Adi-Ayah Aliya, yang terus terngiang dalam benaknya. Ada perasaan lega dan bahagia dalam diri Aliya ketika ia bisa lolos tahap pendaftaran jalur prestasi di sekolah yang dilabeli ‘favorit’ oleh banyak orang. Tak heran jika Adi juga menginginkan anaknya bisa sekolah di sana, seperti dirinya dulu. Kebahagiaan Aliya bukan hanya karena bisa lolos daftar di sekolah favorit, tetapi juga karena ia mengetahui bahwa berkat usahanya, dirinya mampu bersaing dengan banyak siswa dari berbagai daerah dan tentunya juga karena ia bisa memenuhi keinginan sang ayah.
##
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Sudah lima hari sejak pengumuman siswa yang lolos ke tahap tes, hari ini saatnya Aliya mengikuti simulasi tes online. Aliya segera menuju ruang TU MTs Miftahul Ulum-sekolahnya, sebab tidak memungkinkan jika ia harus mengikuti simulasi tes di pondok yang minim fasilitas. Dengan diawali bacaan basmalah, Aliya mampu mengikuti simulasi dengan lancar, baik karena tidak ada kesulitan akses maupun karena ia mampu menjawab soal-soal yang menurutnya cukup mudah. Tak lupa ia membaca hamdalah untuk mengakhiri kegiatannya.
##
Dua hari telah berlalu, kini Aliya tengah dalam perjalanan menuju rumah pamannya, yang dekat dengan MAN II Kota Malang, tempat ia akan melakukan tes esok. Namun, sejak tadi Aliya tidak berhenti memikirkan ucapang Bu Nyai Nisa dan Ning Ayu saat ia pamit berangkat tes, “Kamu mau sekolah negri? Sayang, nanti kamu ga jadi orang alim.” “Semua sekolah itu sama saja, materinya sama karena pakai kurikulum yang sama, tapi di sini kamu mondok, dapat ilmu agama yang ga kamu dapetin di sana.” Tutur mereka sore tadi. Akhirnya Aliya menghubungi sang ibu untuk meredakan pikirannya. “Tidak apa, jangan terlalu dipikirkan, fokus saja untuk persiapan besok, jangan sampai pikiranmu menjadi terganggu oleh nasehat beliau saat tes besok.” Tutur Ani-Ibu Aliya ketika Aliya selesai bercerita lewat telepon. Mendengar penuturan sang ibu, perasaan Aliya menjadi sedikit lebih tenang. Ia pun bertekad untuk berusaha semaksimal mungkin dalam menjalani tes. Ayahnya sudah banyak berkorban agar ia bisa berada di titik ini, tidak mungkin jika Aliya menjawab asal soal tes hanya karena pikirannya yang kacau.
##
Sinar mentari terasa hangat di kulit Aliya ketika ia berjalan menuju tempat tes. Namun semangatnya saketika hilang menjadi perasaan takut dan minder ketika ia melihat teman-temannya belajar dengan berbagai buku tebal sebelum tes dimulai. Persiapan yang kurang membuat Aliya menjadi khawatir jika dirinya tidak mampu menjawab soal tes nanti, sehingga ia memutuskan untuk menyempatkan diri belajar dari internet beberapa materi yang mungkin akan keluar saat tes.
##
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, waktu tes mapel wajib dan peminatan akan berakhir satu jam lagi. Namun Aliya sudah menyelesaikan tesnya, bukan karena ia mampu sehingga ia selesai lebih dulu dari teman-temannya, tapi Aliya salah strategi,banyak soal yang menurutnya cukup sulit ia jawab asal, sebab ia khawatir waktunya akan tidak cukup. Ternyata waktu pengerjaan masih tersisa banyak dan ia tidak dapat memanfaatkannya karena soal beralur maju, tidak bisa jika kembali pada soal sebelumnya. Aliya kecewa pada dirinya sendiri namun ia tidak bisa apa-apa selain berdoa semoga hasilnya memuaskan.
##
Setelah tes mapel wajib, pemintan dan BTQ kemarin, kini Aliya tengah melakukan tes psikologi. Ia terus menenangkan diri agar bisa mengikuti tes dengan lancar. Beruntungnya, tes psikologi sama dengan tes BTQ, tidak buruk seperti tes mapel wajib maupun peminatan. Aliya merasa lega akhirnya tes masuk sekolah baru sudah berakhir. Namun pikirannya tiba-tiba teringat pada kejadian kemarin siang ketika ia menunggu giliran tes BTQ, akibat sifatnya yang pemalu, Aliya benar-benar menunggu giliran tes sendiri tanpa berbincang dengan teman baru. Ia merasa sangat bosan dan kesepian. Ia bingung harus berbuat apa, untung saja hal tersebut tidak berjalan terlalu lama. Setelah namanya dipanggil. Aliya segera melakukan tes dan kembali pulang ke rumah pamannya.
##
Tiga hari telah berlalu, esok adalah hari pengumuman siapa saja siswa yang akan lolos masuk sekolah favorit itu, tapi kini perasaan Aliya begitu cemas dan bimbang. Di satu sisi ia ingin sekolah di sana, mewujudkan keinginan sang ayah. Namun, di sisi lain ia masih ingin melanjutkan mondok. Ia juga takut di sana ia tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, ditambah hasil tes yang tidak meyakinkan membuat Aliya semakin bimbang, memilih putus mondok dan melanjutkan belajar di sekolah favorit atau meneruskan mondok dan bersekolah di sekolah swasta bersama teman teman lama. Akhirnya Aliya memilih menghubungi sang ibu guna menyampaikan pilihannya. “Bu, aku sudah mempertimbangkan banyak hal, diterima atau tidak aku memilih untuk tetap mondok dan tidak jadi sekolah di MAN II.” Ucap Aliya dengan ragu-ragu. Menanggapi pernyataan sang anak, Ani memutuskan untuk memerintah Aliya agar ia menjelaskan pilihannya pada Adi. Aliya pun menurutinya. Ia menghubungi sang ayah dan mejelaskan hal yang sama, namun Adi meyakinkan dengan berkata “Sudah kita tunggu hasilnya saja setelah pengumuman besok.”
##
Setelah pembacaan doa pulang sekolah, Aliya dipanggil oleh Bu Imah-guru mapel terakhir hari ini. Aliya diminta oleh beliau untuk ke ruang kepala sekolah sekarang juga. Dengan kebingungan, Ia tetap mematuhi perintah beliau. Alangkah terkejutnya, ternyata di sana ada kedua orang tuanya. Bebagai pertanyaan muncul dalam benaknya, “Mengapa ayah dan ibu ke sekolah? Tumben sekali mereka.” Aliya juga baru teringat jika hari ini adalah pengumuman hasil tes, dan siswa yang diterima orangtuanya akan diundang utuk menghadiri rapat wali siswa baru. Namun jika ia diterima, mengapa Ayah dan Ibunya ke sini?, mengapa mereka tidak mengikuti rapat? Atau rapat sudah selesai? Tapi itu tidak masuk akal menurutnya. “Ada urusan apa mereka datang kemari?” pertanyaan itu yang terus memenuhi pikirannya. Hingga akhirnya Aliya duduk di antara kedua orangtuanya setelah ia bersalaman dan barulah ia menemukan jawabannya. Adi berkata bahwa Aliya tidak lolos tes dan ia datang untuk bertanya tentang keputusan Aliya. “Kamu jadi lanjut di mana nak? Di MA sini dan lanjut mondok atau mau daftar di MAN II jalur reguler?” begitu ucap Adi. Pertanyaan ini membuat Aliya menjadi bimbang lagi, sebab dalam petanyaan tersebut tersirat keinginan sang Ayah agar ia sekolah di sana, padahal sebelumnya ia sudah yakin untuk melanjutkan mondok saja.
Dengan senyum mengembang, Bu Dwi-kepala sekolah MTs Miftahul Ulum memberi nasehat pada Aliya. “Dipertimbangakn lagi nak, Ibu tau kamu pasti bimbang, menurut Ibu sekolah di mana saja itu sama, semua tergantung bagaimana kamu menjalaninya. Di sana memang sekolah favorit, tapi persaingannya juga lebih ketat daripada di sini. Walaupun nanti kamu tinggal di asrama pendidikan agamanya kalah dibanding di pondok. Tapi semua keputusan kembali lagi ke kamu.” Tutur Bu Dwi panjang. Ani juga ikut menambahkan. “Benar kata Bu Dwi, Ibu serahkan semua keputusan pada kamu. Di sekolah mana saja ibu pasti dukung. Ibu tidak menuntut kamu untuk sekolah dimana pun karena nanti yang menjalani adalah kamu.” Mendengar penuturan sang ibu, Aliya menjadi lebih yakin dengan keputusannya. Meski dengan perasaan bersalah pada sang ayah ia memilih untuk lanjut mondok dan melanjutkan sekolah di MA Miftahul Ulum saja. “Aku tau ini adalah keputusan berat,tapi dengan segala pertimbangan aku yakin jika ini adalah pilihan terbaik untuk masa depanku.” Batin Aliya meyakinkan dirinya sendiri.
Bagaimanapun keputusan yang dipilih Aliya ialah yang akan menjalani. Adi dan Ani hanya mampu memberi dukungan dan doa untuk kebaikan putrinya. Mereka berharap segala yang terbaik akan terus berpihak pada Aliya.
Analisis Unsur Instrinsik dan Kebahasaan Cerpen
Tema : kebimbangan seorang anak dalam menentukan masa depan pendidikan
Alur : maju
Latar : - tempat : kelas, jalan raya, ruang tes, ruang kepala sekolah, ndalem pengasuh, ruang TU
-Waktu : pagi hari saat tes, sore saat perjalanan ke rumah paman, siang saat simulasi, siang saat dipanggil ke ruang kepala sekolah, siang hari ketika tes btq
-Suasana : senang, cemas, takut, sedih, tegang, bingung
Tokoh dan penokohan : - Aliya : pemalu, berprestasi, penurut, sering cemas, religius, ceroboh
-Ani (ibu) : bijaksana, penyabar, penguat bagi Aliya selalu mendukung pilihan Aliya
-Adi (ayah) : penyayang, ambisius, memiliki harapan besar anaknya sekolah di sekolah favorit, tegas tapi tetap peduli
-Bu Dwi : bijak, memberi sudut pandang yang menenangkan, tidak memihak, dan
-Bu Imah : guru yang memanggil Aliya ke ruang kepala sekolah
-Bu Nyai Nisa dan Ning Ayu : penasihat, religius ingin Aliya tetap mondok
Sudut pandang : orang ketiga serbatahu
Amanat :
1. Keputusan terbaik adalah keputusan yang dipilih dengan pertimbangan matang dan keyakinan diri.
2. Harapan orang tua penting, namun masa depan tetap pilihan anak yang menjalaninya.
3. Setiap sekolah baik, tergantung bagaimana kita belajar dan berusaha.
4. Kegagalan bukan akhir, tetapi kesempatan untuk menata jalan baru yang lebih sesuai.
Penggunaan kata keterangan waktu : Minggu depan, pagi itu, sudah lima hari, hari ini, dua hari telah berlalu, esok, kini, ketika dll
Penggunaan verba aksi : mengikuti, menuju, menjawab, berjalan, menjelaskan, menunggu, berbincang dll
Penggunaan dialog : " kamu mau sekolah negri?......", "semua sekolah itu sama......", "jadi kamu mau lanjut....." dll


Komentar
Posting Komentar