Radisty Wulansari (teks cerpen)
Liburan yang Mengubah Segalanya
Setelah ujian akhir semester di Pondok Pesantren Al-Qur’an Nurul Huda selesai, suasana pondok mendadak berubah. Biasanya penuh dengan suara hafalan dan bacaan kitab kuning, kini justru riuh oleh koper, kardus, dan santri yang sibuk berkemas. Liburan pesantren akhirnya tiba.
Aku, menjadi salah satu yang paling bersemangat. “Aku mau tidur sepuasnya di rumah!” serunya pada teman sekamarnya, Naila.
Naila hanya tertawa. “Hati-hati, Ya. Liburan juga ujian. Jangan sampai lupa ngaji.”
Aku mengangguk, meski dalam hati aku sudah membayangkan bermain hp, jalan-jalan, dan memakan masakan ibu.
Sesampainya di rumah, sambutan hangat keluarga membuatku bahagia. Hari pertama dan kedua, Aku membantu ibu, bermain dengan keponakanku, dan mengunjungi rumah nenek.Tapi setelah itu, rasa malasku mulai muncul. Al-Qur’an yang aku bawa hanya terletak di atas meja.
Malamnya, ayah duduk di sampingku.
“Dek,” ujar ayah, “kamu mondok untuk siapa?”
Aku terkejut. “Untuk… Aku sendiri. Biar jadi orang baik dan pintar.”
Ayahku tersenyum. “Kalau begitu, jangan berhenti hanya karena libur. Kebaikan tidak mengenal jadwal.”
Kata-kata itu membuatku terdiam lama. Aku teringat nasihat kiai: ‘Liburan itu jeda, bukan berhenti.’
Paginya, sebelum matahari terbit, Aku membuka Al Qur’an. Aku mulai mengulang hafalanku pelan-pelan. Rasanya sulit, tapi hatiku lebih tenang. Setiap selesai satu halaman, Aku merasa seperti kembali mendengar suara ustadzahku di pojokan kelas tahfiz. Selesai mengaji aku segera menuju ke kamar untuk tidur. Sebelum itu aku sempat berpikir meskipun kita liburan harus tetap mengaji apapun keadaannya.
Tidak lama, akhir bulan pun tiba. Sebelum itu,Naila menghubungiku melalui pesan suara.
“ gimana hafalanmu? Jangan-jangan nol besar?”
Aku tertawa kecil. “Tenang saja. Memang sempat kendor, tapi aku sudah mulai lagi.”
“Alhamdulillah!” seru Naila.
Hari kembali ke pesantren pun tiba. Aku kembali membawa koper yang lebih ringan, tapi hatiku lebih kuat. Saat setoran hafalan pertama, ustadzah memuji perbaikanku.
Dengan senyum bangga, Aku membatin,
“Liburan ini bukan hanya waktu untuk pulang… tapi waktu untuk kembali menemukan diri.”
Aku, menjadi salah satu yang paling bersemangat. “Aku mau tidur sepuasnya di rumah!” serunya pada teman sekamarnya, Naila.
Naila hanya tertawa. “Hati-hati, Ya. Liburan juga ujian. Jangan sampai lupa ngaji.”
Aku mengangguk, meski dalam hati aku sudah membayangkan bermain hp, jalan-jalan, dan memakan masakan ibu.
Sesampainya di rumah, sambutan hangat keluarga membuatku bahagia. Hari pertama dan kedua, Aku membantu ibu, bermain dengan keponakanku, dan mengunjungi rumah nenek.Tapi setelah itu, rasa malasku mulai muncul. Al-Qur’an yang aku bawa hanya terletak di atas meja.
Malamnya, ayah duduk di sampingku.
“Dek,” ujar ayah, “kamu mondok untuk siapa?”
Aku terkejut. “Untuk… Aku sendiri. Biar jadi orang baik dan pintar.”
Ayahku tersenyum. “Kalau begitu, jangan berhenti hanya karena libur. Kebaikan tidak mengenal jadwal.”
Kata-kata itu membuatku terdiam lama. Aku teringat nasihat kiai: ‘Liburan itu jeda, bukan berhenti.’
Paginya, sebelum matahari terbit, Aku membuka Al Qur’an. Aku mulai mengulang hafalanku pelan-pelan. Rasanya sulit, tapi hatiku lebih tenang. Setiap selesai satu halaman, Aku merasa seperti kembali mendengar suara ustadzahku di pojokan kelas tahfiz. Selesai mengaji aku segera menuju ke kamar untuk tidur. Sebelum itu aku sempat berpikir meskipun kita liburan harus tetap mengaji apapun keadaannya.
Tidak lama, akhir bulan pun tiba. Sebelum itu,Naila menghubungiku melalui pesan suara.
“ gimana hafalanmu? Jangan-jangan nol besar?”
Aku tertawa kecil. “Tenang saja. Memang sempat kendor, tapi aku sudah mulai lagi.”
“Alhamdulillah!” seru Naila.
Hari kembali ke pesantren pun tiba. Aku kembali membawa koper yang lebih ringan, tapi hatiku lebih kuat. Saat setoran hafalan pertama, ustadzah memuji perbaikanku.
Dengan senyum bangga, Aku membatin,
“Liburan ini bukan hanya waktu untuk pulang… tapi waktu untuk kembali menemukan diri.”


Komentar
Posting Komentar