Raden Ayu Aura (teks cerpen)

 Langkah Jauh Menuju Kebahagiaan

Seorang anak Perempuan yang selalu tampak lesu dari beberapa hari yang lalu, melamun di kamar dengan isi kepala yang berkecamuk memikirkan segala omongan mamanya beberapa hari yang lalu.
FLASHBACK ON
Suatu hari, mama memberitahuku bahwa tahun depan aku di daftarkan ke sebuah pondok pesantren. Pondok itu berada sangat jauh dari rumah, perjalanan menempuh 4 hari 3 malam. Mendengar itu membuat ku terkejut dan sangat kecewa karna aku menduga bahwa mamaku tak ingin aku berada di rumah, dadaku langsung terasa nyeri memikirkannya.
FLASHBACK OFF
Aku menangis terisak mengingatnya kembali, tak tahu harus bagaimana lagi agar tidak jadi masuk pondok , tak terasa aku tertidur dengan wajah yang masih di berlinang air mata.
“Kak bangun, disuruh mama makan siang” Ucap sang adik sambil membangunkannya. Aku terbangun tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu beranjak dari tempat tidurku menuju ruang makan.
“Kamu sudah tidak makan dari tadi pagi kak, mengapa akhir akhir ini kamu terlihat tidak bersemangat seperti ini?” Tanya mamanya khawatir melihat keadaan anaknya yang selalu kepergok melamun tanpa semangat.
“Aku tidak apa apa mah” Jawabku lesu sambil menyantap makanan siang ku
“Mama memilihkan yang terbaik tentang masa depan kamu kak, disana pendidikan lebih jauh bagus kak, mama memikirkan kebaikanmu karna mama sayang kamu.” Ucap mama lemah lembut pengertian, seolah tahu apa yang sedang dipikrkan oleh anaknya.
Aku merenung meresapi perkataan mama “ Tapi mah, aku belum siap jauh dari rumah, kesana sangat jauh sekali.” Jawabku lirih
“Mama akan sekali kali mengunjungi kaka, disana sangat indah kak, kalau mama kesana nanti kita bisa berliburan memutari kota Malang.” Bujuk mamah
“Kalau kakak memang tidak setuju sama keputusan mama, tidak apa kak, biar papa yang membujuk mama untuk membatalkan sekolah disana dan papa akan mencarikan sekolah yang sama bagusnya disini” ucap papa melanjutkan.
Aku terdiam memikirkan perkataan mama dan papa, sebenarnya aku tahu, mama dan papa hanya ingin yang terbaik untukku dan masa depanku.
“Ga masalah pah, aku akan mencobanya. Pasti nanti aku akan terbiasa disana, aku setuju dengan keputusan mama.” Dengan berat hati, akhirnya aku menyetujui keputusan mama sambil berharap hal baik selalu berada di sisiku.
“kamu beneran yakin sama keputusan kamu ini kan? selagi kita belum berangkat kesana.” Ucap papa meyakinkan.
“iya pa, aku yakin.” Jawabku, mama dan papa yang mendengar itu langsung tersenyum lembut kepada ku.

Hari pertama masuk pondok, aku masih merasa gugup dengan semua orang di sekitarku, namun akhirnya aku mulai merasa terbiasa dengan lingkungan disini dan menemukan banyak teman dengan sifat yang berbeda.
Bertahun tahun telah terlewati, aku duduk manis di bangku wisuda SMP ku, tersenyum getir dan dada yang terasa sesak menatap kepada semua orang yang sedang di dampangi oleh keluarganya, sedangkan aku hanya seorang diri tanpa didampingi orangtua maupun keluarga. Walaupun begitu aku meyakinkan diri ku sendiri kalau orangtua ku tidak dapat mendampingiku karna terhalang oleh jarak dan biaya yang cukup besar
Dari segala kenangan dan kisah yang sudah aku alami di tempat pondok ini, maupun senang atau sedihnya, aku belajar banyak hal: disiplin, kesabaran hingga kemandirian tanpa bergantung dengan orang tua itu sangat berat, tapi perlahan lahan aku akan terbiasa.
Jarak yang jauh tidak selalu buruk. Kadang, jarak menjadi jalan untuk menemukan dirimu yang kuat. justru Jauh dari rumah mengajarkan arti rindu, tapi juga mengajarkan arti perjuangan, anak rantau itu kuat, karna mereka terbiasa melangkah sendiri, namun tetap membawa doa dan juga harapan orangtua di setiap langkahnya.

UNSUR INTRINSIK
1. TEMA
Perjuangan dan penerimaan seorang anak dalam menghadapi perrubahan hidup (masuk pondok pesantren).
2. ALUR / PLOT
Alur maju mundur: penolakan, flashback menyangkut masa lalu, dialog dengan mama dan papa, menerima keputusan, lulus dari pondok.
3. TOKOH PENOKOHAN
• Aku : pameran utama, awalnya penakut, akhirnya mecoba mandiri dan Bahagia
• Mama : Bijaksana, penyanyang
• Papa : Penuh pengertian dan kasih sayang
• Adik : Tokoh figuran, Polos.
4. LATAR / SETTING
• Tempat : Rumahku, Pondok Pesantren, kamar rumah, meja makan
• Suasana: Haru, kesedihan, cemas
• Waktu : siang hari, bertahun tahun, hari pertama masuk pondok.
5. SUDUT PANDANG
Orang pertama pelaku utama (Aku)
6. AMANAT
Setiap perubahan hidup mungkin terasa menakutkan, tetapi keberanian untuk mencoba akan membawa kebahagiaan dan perkembangan diri.

UNSUR EKSTRINSIK
• Nilai Pendidikan : Pentingnya menuntut ilmu.
• Nilai moral : Keberanian menghadapi ketakutan.
• Nilai keluarga : Kasih sayang yang erat
UNSUR KEBAHASAAN
• Menggunakan kata ganti orang pertama = Aku.
• Menggunakan kalimat langsung = Dialog antara mama, papa dan aku.
• Banyak kata yang menggambarkan perasaan = Kekecewaan
• Memakai pilihan kata yang emotif = Sesak, lirih

Komentar

Postingan Populer