Nuril (cerpen)
Tirakat di Pondok
Angin malam berhembus pelan menyusup lewat jendela kecil kamar pondok. Di sudut ruangan, Rafi duduk memeluk lutut, memandang uang lima ribu rupiah yang terlipat rapi di tangannya. Hanya itu yang tersisa. Besok masih harus masuk kelas, masih harus beli fotokopian, dan perutnya sejak siang hanya diisi teh hangat.sedangkan jadwal sambangan masih satu minggu lagi.
Rafi menghela napas.
“Ya Allah…”. Tapi wajahnya tetap tenang. Ia ingat pesan Kyai: “Santri itu tumbuh bukan karena kenyang, tapi karena doa dan tirakat.”
Malam itu ia mengambil wudhu. Air wudhu terasa dingin menusuk tulang, tapi hatinya hangat. Ia masuk musholla, lampu temaram, sajadah , dan aroma kayu yang lembab. Hanya ada satu santri lain yang sedang tidur bersandar di tiang, mungkin kelelahan.
Rafi berdiri, lalu shalat dua rakaat. Setelah salam, ia mengangkat kedua tangannya lalu berkata “Jika rezeki itu jauh, dekatkanlah ya Allah… Jika rezeki itu dekat”.
Keesokan paginya, perutnya mulai melilit. Teman-temannya sarapan bubur kacang ijo dari kantin. Rafi hanya duduk di emperan, meminum air putih. Ia sengaja tidak meminta, tidak mengeluh. Dalam dirinya hanya ada satu keyakinan: Allah tidak tidur.
Saat jam pelajaran pertama, ustadz tiba-tiba masuk dengan membawa map besar berisi lembar soal.
“Anak-anak, ini hasil seleksi tugas hafalan kemarin. Ternyata ada beberapa santri yang nilai hafalannya bagus sekali. Kami ingin memberikan apresiasi.”
Rafi tidak terlalu memperhatikan. Ia merasa hafalannya minggu lalu biasa saja.
Lalu namanya dipanggil.
“Rafi, maju.”
Rafi terkejut. Teman-temannya bertepuk tangan pelan. Ustadz menyerahkan amplop kecil dan berkata,
“Ini hadiah sederhana dari madrasah. Untuk semangatmu menghafal.”
Rafi menunduk, menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Dalam perjalanan kembali ke tempat duduk, ia merasakan sesuatu mengalir di dadanya—bukan uang, tapi ketenangan.
Saat istirahat, ia membuka amplop itu diam-diam. Di dalamnya ada uang seratus ribu rupiah.
seratus ribu Lebih dari cukup.
Jauh lebih dari yang ia minta tadi malam.
Rafi menutup mulut, menahan air mata.
“Terima kasih ya Allah… ternyata rezeki itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Hari itu, ia membeli makan, membayar fotokopian, dan sisanya ia simpan. Sebelum kembali ke kamar, ia menyempatkan diri ke musholla yang sama, tempat ia berdoa semalam


Komentar
Posting Komentar