Nazwa Rahmadina (Teks Cerpen)

 Cahaya Fajar dari Sememi

 

​Dina berasal dari keluarga yang harmonis dan berkecukupan tidak lebih. Rumah mereka di kawasan Sememi, Surabaya. Selalu dibersamai oleh kehangatan dan kasih sayang yang berasal dari orang tua juga kakak-kakak nya. Sejak kecil, Dina memendam banyak impian, salah satunya: Menjadi dokter penghafal Al-Qur’an, serta banyak mendapatkan beasiswa untuk meringankan beban orang tuanya. 

​Untuk mencapai impian itu, pengorbanan Dina dimulai. 

Disaat teman-temannya asyik dengan media sosial dan pusat perbelanjaan, rutinitas Dina terbagi: Sekolah, membantu pekerjaan rumah, dan menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sepulang dari sekolah pukul 13.00 WIB Dina memilih menambah hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dibanding dengan istirahat siang. 

Setelah adzan ashar dikumandangkan, Dina bergegas siap-siap untuk berangkat mengaji di rumah saudaranya hingga matahari terbenam. Lampu kamar Dina tak pernah mati sebelum pukul 23.00. Selain untuk tugas sekolah, tetapi juga untuk murojaah ayat-ayat Al-Qur'an dibawah bimbingan orang tua serta sepupu dari ayahnya. 

Mundurnya Waktu (Flashback): Dina ingat betul, tujuh tahun lalu, ia pernah merasa sangat putus asa. Saat itu, ekonomi keluarga sedang tidak baik–baik saja. Dina terus mencari informasi beasiswa di media sosial supaya bisa membantu ekonomi keluarganya. Tak lama dari itu Dina menemukan beasiswa tahfidz untuk pelajar dari PemKot Surabaya. Dina sangat tertarik dan bertekad untuk mendapatkan beasiswa tersebut. 

Tanpa berpikir panjang Dina pun langsung mendaftarkan diri pada program beasiswa tersebut. Setelah berhasil terdaftar, Dina selalu bersungguh-sungguh menjaga hafalannya demi mendapatkan beasiswa tersebut. Akan tetapi niat Dina juga masih sama seperti dulu yaitu menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an karena Allah SWT.


Hafalannya sempat berantakan. Namun, Ibu Dina, dengan wajah teduh, selalu mengingatkan, "Nak, kalau harta itu bisa habis, tapi hafalan Al-Qur'an itu cahaya yang tidak akan pernah padam. Itu beasiswa sejatimu dari Allah." Kata-kata itu menguatkan Dina. Ia kembali menekuni hafalannya, bahkan harus berjalan kaki ke Madrasah agar uang sakunya bisa ditabung untuk kebutuhan yang jauh lebih utama.

Tibalah hari dimana babak seleksi dilaksanakan di Balai Kota. Dina meminta doa kepada orang tua juga kakak-kakaknya, tak lupa tiada henti memohon kepada Allah supaya diberi kelancaran. Setelah menjawab tiga soal dengan benar dan lancar, hati Dina pun merasa jauh lebih tenang. Apapun hasilnya nanti, Dina terima dengan lapang dada.

​Kembali ke Masa Kini (Klimaks): Hari pengumuman tiba. Dina sudah melewati tahap seleksi yang ketat. Pagi itu, di ruang tamu, Dina membuka link pengumuman hasil beasiswa dari PemKot. Jantungnya berdebar kencang, secepat laju trem di Darmo. Matanya menelusuri barisan nama. 

​Tidak ada. Cari lagi. 

​Hingga matanya sampai di baris paling bawah, tertera nama lengkapnya: Amalia Andina. Di sampingnya, tertulis status: Diterima (Lolos Beasiswa Penuh Tahfidz).  

​Ambang air mata yang selama ini ia tahan—rasa kantuk yang disabotase, kaki pegal karena berjalan, dan tekanan menghafal di tengah krisisnya ekonomi—semua tumpah dalam satu tarikan napas lega. 

​Ayah dan Ibu Dina bergegas memeluknya. Ayahnya, melihat nama yang tertera itu dengan tatapan haru. "Alhamdulillah, Nak. Surabaya punya walikota yang peduli, tapi ini semua karena izin Allah dan kesabaranmu," bisik Ayah. 

​Dina tahu, beasiswa itu bukan sekadar uang. Itu adalah pengakuan atas pengorbanan dan janji yang ia pegang teguh di balik setiap ayat yang ia hafal. Di bawah terik matahari Surabaya, impian Dina bersinar terang, membawa cahaya fajar dari sudut Sememi. 





Komentar

Postingan Populer