Fathir farrazdaq (cerpen)
“Tempat Pulang Bernama Kamu”
Selama hidupnya, Yoga selalu merasa hubungan asmara itu seperti lorong gelap yang tak pernah menemukan pintu keluar. Setiap kali ia mencoba membuka hati, ia justru tersandung harapan sendiri.
Dulu ia pernah mencintai Qiyya, perempuan ceria yang selalu membuat hari-harinya berwarna. Tapi ternyata Qiyya hanya menjadikannya tempat bercerita—bukan tempat pulang. Yoga terluka, namun ia tetap percaya cinta itu akan datang ketika waktunya tepat.
Beberapa tahun kemudian, ia bertemu Dyah, yang tampak seperti jawaban atas semua sepinya. Mereka dekat, tertawa bersama, sering makan malam di warung kecil langganan. Namun, ketika Yoga memberanikan diri mengungkapkan perasaan, Dyah hanya tersenyum minta maaf. Ia telah mencintai orang lain sejak lama. Yoga kembali patah—kali ini lebih diam, lebih dalam.
Setiap salah cinta membuat Yoga semakin takut. Ia mulai berpikir bahwa mungkin dirinya memang ditakdirkan untuk sendirian. Bahwa ada orang-orang yang hebat dalam pekerjaan, hebat dalam berteman, tetapi tidak pernah benar-benar berhasil dalam urusan hati. Ia merasa dirinya salah satu dari mereka.
Hingga suatu sore yang lembut, ketika hujan baru saja berhenti dan aroma tanah basah memenuhi udara, Yoga bertemu Safra.
Safra hadir bukan dengan gegap gempita, bukan pula dengan romansa menggebu. Ia datang sebagai seseorang yang duduk di bangku taman, membaca buku favoritnya sambil sesekali tersenyum pada halaman tertentu. Yoga, entah bagaimana, terpanggil untuk menyapa. Percakapan pertama mereka sederhana—tentang buku, tentang hujan, tentang kopi, tentang hal-hal kecil yang membuat hidup tidak terasa terlalu berat.
Tapi dari percakapan kecil itu, Yoga merasa seperti menemukan rumah.
Hari demi hari, kehadiran Safra membuatnya kembali percaya bahwa cinta tidak selalu harus datang dengan rasa sakit. Kadang cinta datang dalam bentuk kedamaian, dalam bentuk seseorang yang tidak pernah membuatmu merasa perlu menjadi orang lain.
Safra mendengarkan cerita-cerita masa lalu Yoga, termasuk patah hatinya yang bertubi-tubi. Dan setiap kali Yoga merasa dirinya tidak layak dicintai, Safra menggenggam tangannya dan berkata,
"Yang salah bukan cintamu, Yoga. Yang salah hanya orangnya. Kamu tidak pernah terlambat untuk dicintai dengan benar."
Perlahan, luka-luka lama Yoga tidak lagi terasa perih. Bersama Safra, ia belajar bahwa orang yang tepat tidak akan membuatmu ragu, tidak akan membuatmu merasa berada di tempat yang salah.
Suatu malam, di bawah langit Malang yang berkilau lampu kota, Yoga berkata pelan,
"Kayaknya aku sudah ketemu tempat pulangku."
Safra tersenyum—senyum yang hangat dan tenang.
"Kalau begitu, jangan pergi lagi."
Dan sejak hari itu, Yoga tahu: setelah sekian kali salah mencintai, akhirnya ia menemukan kekasih yang selama ini ia dambakan—seseorang yang tidak hanya mengisi hidupnya, tetapi juga menyembuhkan.
Tempat pulangnya bukan lagi sekadar impian. Tempat itu punya nama Safra Naziha Putri.


Komentar
Posting Komentar