Dwi Anggraini (Teks Cerpen)
Jejak Kita di Halaman Waktu
Di sebuah kota kecil yang selalu wangi hujan, tinggal dua sahabat bernama Rara dan Nita. Mereka berteman sejak kelas dua SD—sejak sama-sama berebut ayunan yang ternyata bisa dinaiki berdua. Sejak hari itu, mereka seperti dua titik yang digambar dekat-dekat, tak pernah benar-benar terpisah.
Bermain di lapangan belakang sekolah, mengerjakan PR sambil makan es lilin, hingga saling curhat soal hal-hal sepele. Tahun demi tahun berlalu, namun langkah mereka tetap seirama.
Masuk SMP, mereka mulai sibuk dengan dunia masing-masing. Rara aktif di klub teater, sedangkan Nita tenggelam dalam dunia badminton. Namun setiap sore minggu, mereka tetap bertemu di taman dekat rumah—hanya untuk duduk, bercerita, dan tertawa seperti dulu. Persahabatan itu tidak berkurang, hanya tumbuh bersama usia.
Waktu tiba-tiba melesat ke SMA. Rara merasa langkah mereka mulai berbeda arah. Nita semakin populer, punya banyak teman baru. Sementara Rara sibuk mengejar kompetisi seni. Meski begitu, suatu hal aneh tetap mengikat mereka setiap kali salah satu merasa terpuruk, kaki mereka seakan otomatis melangkah ke tempat biasa—taman kecil dengan bangku tua.
Suatu petang yang penuh angin, Rara datang dengan mata sembab akibat gagal lomba. Tanpa perlu bertanya, Nita duduk di sebelahnya dan berkata, “Kita udah ngelewatin banyak hal bareng. Kalo jatuh, ya bangun. Tapi jangan sendiri.”
Rara tersenyum kecil. “Kamu juga jangan pergi jauh-jauh.”
Nita tertawa pelan. “Tenang. Aku nggak kemana-mana.”
Hari demi hari terus bergeser, sampai tiba saat kelulusan. Mereka memilih jalan hidup berbeda Rara merantau untuk kuliah seni, Nita masuk akademi olahraga di kota lain. Sebelum berpisah, mereka kembali ke taman itu untuk terakhir kalinya. Hanya diam, menikmati sore yang terasa lebih berat dari biasanya.
“Kalau suatu hari kita berubah…,” Rara membuka suara.
“Yang penting nggak lupa pulang,” jawab Nita cepat.
Persahabatan lama itu akhirnya diuji oleh jarak. Mereka jarang bertemu, jarang berkabar. Namun setiap kali pulang, entah bagaimana, kedua pasang kaki itu tetap membawa mereka ke bangku tua yang sama.
Dan setiap kali bertemu, rasanya seperti tidak pernah ada yang berubah.
Karena beberapa persahabatan tidak diikat oleh intensitas, melainkan oleh waktu—dan oleh hati yang tidak pernah benar-benar pergi.


Komentar
Posting Komentar