As'adatuzzahro (Teks Cerpen)
HARI YANG MENYENANGKAN
Saat hari libur Aku dan ketiga temanku yaitu Gladis,Rini,dan Sabrina ingin pergi ke Surabaya. Kami ingin berkunjung ke rumah Fela dan pergi ke Makam Sunan Ampel dan juga ke Mall Tunjungan Plaza. Kami merencanakan ini sudah sangat lama karena memang ingin Bersilaturrahmi.
Jauh-jauh hari kami sudah memesan tiket kereta secara online. Tapi kami tidak memesannya sendiri melainkan dipesankan oleh kakaknya Gladis. Karena hari libur jadi kami tidak mendapatkan tiket kursi kereta melainkan hanya tersisa tiket tanpa kursi. Berhubung kami sangat ingin ke Surabaya, akhirnya kami terpaksa membeli tiket kereta tanpa kursi.
Kami berangkat dari rumah masing-masing menuju ke Stasiun Singosari sekitar pukul empat pagi . Kami memang sengaja memesan tiket kereta jam segitu agar sampai di Surabaya masih pagi. Aku dan Gladis sampai terlebih dahulu, kami menunggu Rini dan Sabrina datang. Selang sepuluh menit mereka datang dan langsung menjumpai aku dan Gladis.
Akhirnya kami langsung menuju ke loket untuk menscan tiket keretanya. Tapi ternyata barcodey nya tidak bisa di scan. “Barcode yang kotak mbak, kalua yang itu tidak bisa di scan,”kata petugas. Kami kebingungan sendiri karna memang yang dikirimkan oleh kakaknya Gladis hanya itu. Kami langsung mundur untuk menghubungi kakaknya Gladis. Tapi berhubung masih terlalu pagi jadi tidak bisa dihubungi.
Akhirnya kami ke loket lagi. Dan petugas menyuruh menunjukkan salah satu KK dari kami, dan kita langsung menunjukkkannya. Petugas pun langsung mengecek data dikomputernya. “Oh iya datanya ada, silahkan langsung masuk,”katanya. Kami sangat lega karena sudah disuruh masuk. Kami langsung lari menuju gerbong kereta, karena sebentar lagi kereta akan berangkat.
Saat sampai dikerta ada tugas yang bertanya Kepada kami. “Gerbong berapa dek?,” kata si petugas. “Kami tidak memesan tiket kursi pak,” jawabku. “Oh yasudah, terserah mau digerbong berapa, cob acari kursi kosong kalua ada”. Tambahnya. “Iya terima kasih pak,” kataku yang hanya dibalas anggukan oleh bapak petuganya. Lalu petuga itu langsung meninggalkan kami. Kami mengikuti arahan petugas untuk mencari kursi kosong, tetapi tidak ada. Akhirnya memilih berdiri saja, dari pada mondra mandir mencari kursi kosong.
Kami turun di Stasiun Waru. Kami sampai sekitar pukul enam pagi. Turun dari kereta kami beristirahat sebentar karena memang sangat capek dari Singosari ke Waru hanya berdiri. Sambil beristirahat kami memesan taxi online. Tidak lama kami menunggu taxi online pun datang. Dan kami langsung menuju ke rumah Fela.
Sesampai dirumah Fela, Mama Fela langsung menyuruh untuk sarapan. Karena memang kami belum sarapan selama dikereta hanya saja makan roti sebagai pengganjal perut. Tak lama setelah makan, Yasmin datang ke rumah Fela. Kebetulan rumah Yasmin dengan Fela tidak terlalu jauh. Kami menyempatkan berbincang-bincang sebentar sambil menunggu Taxsi online datang.
Sepuluh menit setelahnya, dua taxi online datang dan kami langsung menuju makam Sunan Ampel. Saat perjalanan menuju ke sana tiba-tiba Taxsi online yang aku naiki mogok, yang memungkinkan harus dibawah ke bengkel. Akhirnya kami menunggu taxi diperbaiki. Saat menunggu tiba-tiba Gladis menelepon. “Halo, udah sampai mana Key?,” tanyanya dibalik telfon. “Ini masih dibengkel, soalnya tadi tiba-tib mobilnya mogok,” balasku. “Oh yasudah ini aku udah sampai, nanti kalau mobilnya udah Jalan suruh bapaknya turunin dekat toko Barokah ya”. “Iya Fel kamu tunggu sana dulu, sebentar lagi mobilnya udah bisa”. “Iya Key”.
Saat mobil udah selesai dibenarkan, aku langsung meminta ke bapaknya buat diturunkan di depan toko Barokah yang dimaksud Fela. Surabaya sangat ramai dan macat yang menjadikan kami membutuhkan waktu agak lama untuk sampai disana.
Sesampai disana kami langsung turun dan menghampiri mereka yang sudah menunggu drai tadi. “Maaf ya teman-teman nungguin lama,” ucapku. “Gak apa-apa Key Namanya juga musibah,” balas Gladis. “Yasudah ini udah lengkap kita langsung masuk lewat sini saja,” kata Rini. “Iya ayo langsung aja ,” balas Yasmin.
Kami masuk melewati perkampungan, dan langsung menuju makan Sunan Ampel. Bukan hanya kita yang mendo’akannya tetapi banyak sekali orang dari luar sana. Kami memilih duduk didekat almari buku-buku yasin. Tidak menungggu lama Gladis pun langsung meminpin do’a. Selang dua puluh menit kami berdo’a dan mendo’akan, kamikeluar dari area makam. Aku mengajak mereka untuk meminum air yang disediakan didekat area makam. Selesai minum kami menyempatkan untuk berfoto-foto sebentar. Sesudah itu Yasmin mengajak kami mebeli barang dan makanan yang dijual didekat area pintu keluar makam.
Kurang lebih satu jam kami berada di area makam Sunan Ampel. Kami keluar dan langsung memesan taxi online. Karena tujuan kami selanjutnya Adalah menuju Mall Tunjungan Plaza. Kami ingin menonton film bioskop disana.
Saat sampai disana kami langsung menuju bioskop nya. Tetapi ternyata tiket bioskop jam itu sudah habis. Kami memang ingin menonton film yang saat itu sedang trend yaitu “Jalan Pulang”. Kami tidak kecewa karena masih ada bioskop lain yang belum kami datangi. Karena Tunjungan Plaza, Mall nya ada mulai Tunjungan Plaza 1 sampai Tunjungan Plaza 5.
Bioskop kedua yang kami datangi ternyata sama tiketnya habis. Akhirnya kami beralih ke bioskop terakhir dan untung saja tiketnya masih ada. Karena bioskop ini harapan terakhir kami bisa menonton film jalan pulang.
Aku dan Gladis lah yang disuruh mengantrikan membeli tiketnya. Enam tiket sudah kita dapatkan dan aku memilih kursi yang letaknya di Tengah. Selesai membeli tiket kami masuk ke ruangan bioskop dan langsung mencari nomor kursi yang sudah aku pilihkan tadi.
Dua setengah jam berlalu. Kami keluar dari bioskop dengan keadaan lapar. Kami langsung menuju Food Court untuk membeli makanan disana. Kurang lebih setengah jam kami menghabiskan waktu untuk makan. Setelah itu kami memilih langsung pulang kerumah Fela. Aku dan teman-teman tidak langsung pulang ke rumah karena memang kami ingin menginap dirumah Fela. Bahkan Yasmin yang rumahnya dekat juga ikut menginap.
Sesampai dirumah Fela, hari sudah menunjukkan sangat sore bahkan awan pun sudah mau berganti gelap. Kami memutuskan untuk langsung membersihkan diri. Setelah itu kami merebahkan diri sebentar karena seharian diluar membuat kami terasa sangat capek.
Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Saat suasananya hening tiba-tiba Rini berbicara. “Eh, kalian gak ada yang lapar nih,” tanyanya. “Kenapa Rin kamu lapar?,” balas Fela. “Iya nih Fel”. “Yasudah ayo kita bikin seblak, kebetulan di dapur udah ada bahan-bahannya”. “Yasudah ayo”. Akhirnya kami memasak seblak untuk makan malam kami. Selesai makan kami membersihkannya dan menuju kamar Fela untuk bermain Handphone sebentar, setelah itu kami tidur.
Besoknya setelah bangun kami langsung mandi, sambil bergantian mandi ada yang sarapan dulu. Seselai makan kami berberes untuk persiapan pulang. Karena pukul sepuluh kami akan berangkat menuju Stasiun Waru. Kami ke Stasiun diantar oleh keluarga Fela. Yang diantar hanya aku, Gladis, Rini, dan Sabrina.
Sebelum berangkat kami bermanitan Kepada semua keluarga yang ada dirumah Fela. Pukul sepuluh kami berangkat menuju Stasiun Waru. Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk sampai disana. “Hati-hati ya nak, kapan-kapan main kesini lagi,” kata nenek Fela. “Iya kalau ada waktu nek, kita pamit ya makasih sudah ngizinin kita nginap dirumah Fela,” jawabku. “Iya tidak apa-apa, nenek malah seneng teman Fela datang”. “Iya nek, yasudah kita masuk dulu ya nek”.
Setelah kepergian mereka kami langsung menuju loket. Saat di loket ternyata nama tiket dan KK harus sama. Saat diperiksa hanya nama Rini yang berbeda, akhirnya hanya dia yang tidak boleh masuk. “Maaf kalau Namanya gak sama gak bisa masuk,” Ujar petugas. “Yang bisa masuk hanayyang bertiga saja,” lanjutnya.
Kami sedikit binggung dan Gladis memecahkan kebinggungan kita. “Gimana kalau Keyzia sama Sabrina tetep naik kereta?,” ucap Gladis Kepada Rini. “Terus kita gimana?,” balas Rini binggung. “Kita naik bis aja gimana?”. “Ya gak papa sih, emang kamu gak keberatan nih?”. “Ya mau giaman lagi dari pada kita gak pulang”. “Yaudah ayo deh”. Gladis dan Rini berpamitan untuk ke terminal bis, karena aku dan Sabrina menunggu kereta datang.
Saat kereta datang aku dan Sabrina langsung naik. Dan ada petugas yang bertnya Kepada kita. “Kursi nomor berapa dek?,” tanya petugas. “Tidak pak, kami tidak pesan tiket kursi, kamu hanya pesan tiket tanpa kursi,” balasku. “Yaudah ayo ikut saya, saya carikan kursi kosong”. “Iya pak terima kasih”.
Aku dan Sabrina berjalan mengikuti petugas yang sedang mencarikan kursi kosong untuk kami. “Duduk disini dulu dek, disini kosong, nanti kalau ada orangnya kalian cob acari kursi kosong ya,” ucap petugas. “Iya pak terima kasih banyak,” jawabku. Lalu petuga itu pergi meninggalkan kami berdua.
Selama perjalanan kami hanya duduk saja, tidak seperti saat berangkat yang berdiri terus. Saat sampai Stasiun Lawang kereta berhenti setengah jam. Sampai di Stasiun Singosari Sabrina turun. Dan aku memilih melanjutkan perjalanan sampai aku turun di Stasiun Malang Kota Baru.
ANALISIS CERPEN:
- TEMA: Kebersamaan
- ALUR: Maju
- LATAR TEMPAT: Rumah, Stasiun Waru, Stasiun Singosari, Rumah Fela, Bengkel, Makan Sunan Ampel, Tunjungan Plaza
- LATAR WAKTU: Pagi, siang, sore, malam
- TOKOH PENOKOHAN: Protagonis
- SUDUT PANDANG: Orang pertama
- AMANAT: Bertemu teman lama bukan mahal biaya transportasi atau biaya makannya melainkan mahal waktu bersamanya.


Komentar
Posting Komentar