Akmal (cerpen)

Belajar Membaca di Balik Pagar Sekolah

 

​Udara pagi di SMA Nusantara selalu terasa sama: bau karbol bercampur aroma nasi uduk dari kantin Mbak Siti. Aku, Daffa, anak kelas XI IPA 3, berjalan tergesa menuju loker. Rutinitas Senin pagi yang membosankan.

​"Da, udah baca berita pagi ini?" tanya Fajar, teman sebangkuku, sambil menjejalkan buku fisikanya yang tebal ke dalam tas. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya—bahkan lebih serius daripada saat dia mengerjakan soal limit tak hingga.

​Aku menutup loker. "Berita apa? Soal ulangan dadakan Bu Endang?"

​"Bukan, woi. Ini soal Pak Tua itu, lho. Yang kasus markup dana bantuan sosial. Gila, ya? Angkanya triliunan. Rakyat lagi susah malah dimakan sendiri."

​Aku mengangkat bahu, mencoba bersikap cuek. "Ah, politik. Sudah makanan sehari-hari. Tugas kita kan cuma belajar sampai sukses, biar nggak jadi koruptor kayak mereka."

​Fajar menahan lenganku. "Justru itu. Aku semalam lihat komentar di media sosial, banyak yang bilang, 'Anak muda jangan cuma rebahan. Turun ke jalan, tuntut keadilan!' Rasanya kayak disengat, Da."

​Kami berjalan menuju kelas. Obrolan tentang Pak Tua dan dana triliunan itu memang sedang panas. Di grup kelas pun, stiker-stiker satire dan meme tentang tikus berdasi berseliweran. Ironis, di saat kami diwajibkan menghafal Pancasila dan menjunjung tinggi integritas, realitas di luar sana justru menunjukkan sebaliknya.

​Pelajaran pertama adalah Sosiologi. Bu Laras memulai dengan membahas struktur sosial dan ketimpangan. Persis di saat Bu Laras menjelaskan tentang bagaimana kekuasaan dapat menciptakan jurang pemisah, pikiranku melayang pada Pak Tua itu. Bukankah dia adalah contoh sempurna dari ketimpangan kekuasaan?

​"Daffa, coba jelaskan, apa hubungan antara korupsi dan pembangunan nasional?" suara Bu Laras membuyarkan lamunanku.

​Aku berdiri, sedikit gugup. "Hubungannya... korupsi itu menghambat pembangunan, Bu. Dana yang seharusnya dipakai untuk infrastruktur atau pendidikan malah masuk ke kantong pribadi. Jadi, korupsi itu merusak fondasi masyarakat."

​Bu Laras mengangguk, tapi sorot matanya seperti ingin mencari lebih. "Bagus. Tapi, yang lebih dalam, Daffa. Bagaimana fenomena ini memengaruhi trust atau kepercayaan publik terhadap negara dan institusi, terutama di kalangan anak muda seperti kalian?"

​Kelas mendadak hening. Pertanyaan itu menusuk.

​"Kami..." Aku mengambil napas. "Kami jadi bingung, Bu. Kami diajari bahwa negara itu ideal, bahwa pemimpin itu teladan. Tapi begitu melihat kasus-kasus besar seperti yang... baru-baru ini, kami merasa sistem yang ada tidak bekerja, Bu. Kami merasa suara kami tidak berarti di hadapan kekuasaan besar itu."

​Ucapan itu keluar begitu saja. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada jendela kelas. Di luar, ada selembar spanduk kecil yang diikat di pagar. Spanduk itu ditulis tangan dengan cat semprot: "UANG RAKYAT BUKAN UANG JAJAN!"

​Aku yakin itu ulah beberapa anak kelas XII yang mulai gelisah. Aksi kecil, tersembunyi di balik pagar sekolah.

​Fajar menyikutku pelan, wajahnya memancarkan rasa bangga sekaligus takut.

​Bu Laras tersenyum tipis. Senyum yang lembut namun penuh makna. "Benar, Daffa. Belajar membaca rumus Fisika itu penting. Tapi, belajar membaca realitas dan menjaga integritas jauh lebih penting. Karena kalianlah yang akan menjadi arsitek kepercayaan itu di masa depan."

​Jam istirahat tiba. Aku dan Fajar langsung mendekati pagar sekolah untuk melihat spanduk itu lebih dekat. Sederhana, tapi sarat makna.

​"Menurutmu, kita harus bagaimana, Jar?" tanyaku sambil memandangi tulisan tangan yang sedikit miring itu.

​Fajar merapikan ikatan spanduk agar tidak jatuh. "Kita nggak harus turun ke jalan. Tugas kita sekarang mungkin cuma satu: Belajar dengan benar. Belajar biar kita punya akal, punya nyali, dan punya kemampuan buat bikin sistem yang lebih baik. Biar nggak ada lagi Pak Tua-Pak Tua lain di masa depan."

​Aku tersenyum. Fajar benar. Mungkin inilah cara anak kelas XI IPA 3 "berpolitik"—bukan dengan berteriak di jalanan, tapi dengan menajamkan pikiran di balik meja sekolah.

​Sambil berjalan menjauh dari pagar, menuju kantin, aku tahu, hari ini aku bukan hanya belajar tentang struktur sosial. Aku belajar tentang struktur harapan yang harus kami jaga.

Komentar

Postingan Populer