Roghib Mushtofa
Ketahanan Pangan Indonesia di Ambang Persiapan: AntaraKemajuan dan Risiko
A.Pernyataan Pendapat
Ketahanan pangan adalah pilar penting bagikeberlangsungan bangsa. Indonesia sebagai negara agrarisseharusnya mampu mandiri dalam pemenuhan pangan. Namun, fakta menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional masihmenghadapi berbagai tantangan meski ada kemajuan yang patutdiapresiasi.
B.Argumentasi
Data World Food Programme (2023) menunjukkanprevalensi kekurangan pangan “undernourishment” di Indonesia memang turun dari 10,2% pada 2022 menjadi 8,5% pada 2023. Ini menandakan adanya perbaikan, namun tetap ada lebih dari23 juta orang yang belum mampu memenuhi kebutuhan gizisesuai standar. Masalah gizi juga belum selesai: lebih dari 20% anak di bawah usia 5 tahun masih mengalami stunting. Artinya, pemenuhan pangan secara kuantitas meningkat, tetapi kualitasgizi belum merata.
Selain itu, kerawanan pangan masih mengancam. Data BPS 2024 memperkirakan 7–16% penduduk Indonesia atausekitar 19 hingga 45 juta jiwa berada dalam kondisi rentankelaparan. Kondisi ini diperburuk oleh perubahan iklim danfenomena El Niño yang mengancam produksi padi di JawaBarat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Situasi global pun menekan, karena indeks harga pangan FAO pada Agustus 2025 mencapai 130,1 poin, level tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Meski demikian, upaya pemerintah patut diapresiasi.Menurut *Food Security and Vulnerability Atlas* (FSVA), jumlah kabupaten/kota rentan pangan menurun dari 74 menjadi68 wilayah dalam periode 2022–2023. Prevalensi kerawananpangan sedang dan berat pun turun menjadi 4,5% pada 2023. Pemerintah juga menargetkan prevalensi kekurangan panganturun hingga 5% sesuai RPJMN.
C.Simpulan atau Penegasan Ulang
Berdasarkan data tersebut, jelas bahwa ketahanan panganIndonesia berada di persimpangan. Ada kemajuan yang menunjukkan arah positif, tetapi risiko besar dari iklim, hargaglobal, dan distribusi pangan tidak merata masih mengancam.Oleh karena itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya dijagalewat peningkatan produksi. Indonesia perlu memperkuatdistribusi ke daerah terpencil, mengendalikan harga panganpokok, serta mendorong diversifikasi pangan agar masyarakattidak hanya bergantung pada beras. Dengan langkah-langkahstrategis ini, ketahanan pangan dapat benar-benar menjadikekuatan, bukan kerentanan.
Sumber:


Komentar
Posting Komentar