Tugas Akhir Bab Drama kelompok 7
Nama Kelompok 7
1. As'adatuzzahro
2. Diyah Ayu Puspitasari
3. Raden Ayu Aura
4. Robiatun Nikmah
5. Sahda Nursakinah
Naskah Drama: Antara Ambisi dan Santri
Adaptasi Cerpen: Putus atau Terus?
Tokoh:
1. Aliya: Remaja santri yang cerdas, peragu, namun teguh pada prinsip.
2. Pak Adi: Ayah yang disiplin, memimpikan anaknya sukses di jalur formal.
3. Ibu Ani: Sosok pendamai, lembut, dan sangat memahami perasaan anaknya.
4. Bu Nyai Nisa: Pengasuh pondok yang karismatik dan berwibawa.
5. Bu Dwi: Kepala Sekolah yang bijak dan objektif.
________________________________________
BABAK 1: Gemuruh Harapan
(Latar: Ruang TU sekolah yang sepi. Aliya duduk menghadap monitor komputer. Cahaya lampu ruangan agak redup, fokus hanya pada wajah Aliya yang tegang.)
Aliya: (Berbisik) Bismillah... jalur prestasi. Ayah, ini untukmu.
(Suara Echo Pak Adi bergema) “Alhamdulillah nak, kamu lolos pendaftaran. Minggu depan kamu harus tes. Jadi seperti Ayah dulu ya, sekolah di sana.”
Aliya: (Mengetik dengan cepat, lalu menghela napas lega) Selesai. Simulasi ini lancar. Kalau soalnya semudah ini, aku pasti bisa. Alhamdulillah... (Tersenyum optimis).
________________________________________
BABAK 2: Dilema di Gerbang Pesantren
(Latar: Area depan gerbang pondok. Aliya menyandang tas, bersiap untuk pergi tes ke kota. Bu Nyai Nisa muncul dengan tenang.)
Bu Nyai Nisa: (Suara lembut namun menusuk) Jadi, kamu tetap berangkat tes ke sekolah negeri itu, Aliya?
Aliya: (Menunduk takzim) Enggeh, Bu Nyai. Mohon doa restunya.
Bu Nyai Nisa: Sayang sekali. Padahal di sini kamu sedang dibentuk jadi orang alim. Di luar sana, kurikulum dunia mungkin sama, tapi di sini ada ruh agama yang tidak akan kamu temukan di gedung-gedung megah itu.
(Aliya terdiam membatu. Bu Nyai berlalu. Aliya segera mengambil ponsel dan menelepon Ibunya dengan tangan gemetar.)
Aliya: Bu... Aliya takut. Kata Bu Nyai, kalau Aliya pergi, Aliya takkan jadi orang alim. Apakah Aliya egois jika ingin mengejar impian Ayah?
Ibu Ani (Suara Telepon): Nak, dengarkan Ibu. Fokus saja pada tesmu esok. Jangan biarkan keraguan memakan semangatmu. Ayahmu sudah berkorban banyak untuk titik ini. Berusahalah, hasilnya biar Allah yang atur.
________________________________________
BABAK 3: Kesalahan yang Fatal
(Latar: Ruang kelas besar. Cahaya lampu terang benderang. Suara detak jam dinding terdengar keras. Aliya duduk di antara peserta lain yang tampak membawa buku-buku tebal.)
Aliya: (Batin/Monolog) Kenapa mereka punya buku setebal itu? Aku hanya belajar dari internet semalam. Ya Allah, soal-soal ini... kenapa tidak semudah simulasi?
(Aliya mulai gelisah, mengklik mouse dengan terburu-buru.)
Aliya: Cepat! Aku harus cepat sebelum waktunya habis! (Klik, klik, klik).
(Tiba-tiba layar monitor Aliya memunculkan tulisan "Selesai". Aliya terpaku melihat jam dinding.)
Aliya: (Lemas) Masih ada satu jam... tapi aku sudah menutup tesnya. Kenapa aku panik? Soalnya beralur maju, aku tidak bisa kembali memperbaiki jawaban asal-asalku tadi. (Menutup wajah dengan tangan) Ayah... maafkan Aliya.
________________________________________
BABAK 4: Penentuan di Ruang Kepala Sekolah
(Latar: Kantor Kepala Sekolah. Pak Adi dan Ibu Ani duduk di kursi tamu. Aliya masuk dengan langkah gontai.)
Aliya: Ayah? Ibu? Kenapa ke sekolah hari ini?
Pak Adi: (Menatap Aliya dalam-dalam) Ayah datang untuk menjemput keputusanmu, Nak. Ayah sudah tahu hasilnya. Kamu tidak lolos.
Aliya: (Mata berkaca-kaca) Aliya minta maaf, Yah. Aliya salah strategi. Aliya mengacaukan semuanya.
Pak Adi: (Menghela napas panjang) Masih ada jalur reguler. Ayah bisa mendaftarkanmu lagi kalau kamu mau berjuang sekali lagi. Jadi, bagaimana? Mau terus berjuang ke MAN II atau... putus di sini?
Bu Dwi: (Menengahi dengan suara tenang) Aliya, sekolah favorit memang menjanjikan persaingan yang hebat. Tapi ingat, di mana pun kamu berada, kamu yang menentukan warna masa depanmu. Di sini, di MA Miftahul Ulum, kamu punya pondok dan teman-teman yang mendukungmu.
Ibu Ani: (Menggenggam tangan Aliya) Ibu tidak akan memaksamu lagi. Ibu tahu kamu tertekan. Katakan saja apa yang ada di hatimu, bukan apa yang ada di hati Ayahmu.
(Suasana hening. Aliya menatap Ayahnya, lalu menatap Ibu dan Bu Dwi. Ia menarik napas dalam, bahunya yang tadinya turun kini tegak.)
Aliya: Ayah... Terima kasih sudah mempercayai Aliya. Tapi setelah semua kegelisahan ini, Aliya sadar. Aliya ingin tetap di sini. Aliya ingin tetap mondok. Aliya memilih lanjut di MA Miftahul Ulum. Aliya yakin, ini jalan terbaik untuk masa depan Aliya.
Pak Adi: (Tertegun, lalu tersenyum tipis dan mengangguk) Baiklah. Jika itu keputusanmu, Ayah tidak akan memaksa lagi. Yang penting, jadilah santri yang sungguh-sungguh.
Aliya: (Tersenyum lebar, menghapus air matanya) Terima kasih, Yah. Terima kasih, Bu.
(Aliya memeluk Ibunya. Pak Adi menepuk pundak Aliya. Lampu panggung perlahan redup menuju hitam.)
— SELESAI —
Kegiatan 1: Analisis Karya Sastra
Judul Karya: Antara Ambisi dan Santri
Jenis Karya: Naskah Drama (Adaptasi Cerpen)
1. Tema
Dilema seorang remaja santri antara mengejar ambisi atau harapan orang tua di sekolah formal atau tetap bertahan menuntut ilmu di pesantren.
2. Tokoh dan Karakter
Aliya: Cerdas, peragu di awal, namun teguh pada prinsip dan berbakti.
Pak Adi: Disiplin, ambisius terhadap masa depan anak, namun akhirnya pengertian.
Ibu Ani: Lembut, bijaksana, penuh kasih sayang, dan menjadi penengah yang baik.
Bu Nyai Nisa: Karismatik, berwibawa, dan sangat peduli pada bekal agama santrinya.
Bu Dwi: Bijak, objektif, dan memberikan pandangan yang menenangkan.
3. Alur
Alur Maju
4. Latar (Tempat, Waktu, Suasana)
Tempat: Ruang TU sekolah, area gerbang pondok pesantren, ruang kelas tempat tes, dan kantor Kepala Sekolah.
Waktu: Siang atau sore hari selama proses pendaftaran dan ujian.
Suasana: Tegang saat simulasi dan ujian, penuh dilema saat ditegur Bu Nyai, panik saat salah mengklik ujian, dan haru atau lega saat pengambilan keputusan.
5. Amanat
Masa depan dan kesuksesan tidak melulu ditentukan oleh kemegahan sekolah, melainkan dari kesungguhan diri sendiri.
Komunikasi yang jujur antara anak dan orang tua sangat penting agar tidak ada pihak yang merasa tertekan.
Keberkahan ilmu agama di pesantren tidak kalah penting dengan duniawi.
Kegiatan 2: Perencanaan Drama
1. Siapa saja tokoh dalam drama?
Aliya, Pak Adi, Ibu Ani, Bu Nyai Nisa, dan Bu Dwi.
2. Bagaimana pembagian adegan?
Drama ini dibagi menjadi 4 babak:
Babak 1: Aliya mengikuti simulasi ujian jalur prestasi di ruang TU dengan bayang-bayang harapan ayahnya.
Babak 2: Aliya berpamitan di gerbang pesantren, mendapat nasihat mendalam dari Bu Nyai, lalu meminta penguat dari ibunya melalui telepon.
Babak 3: Aliya mengalami kepanikan saat ujian asli di ruang kelas hingga melakukan kesalahan fatal menutup tes sebelum waktunya.
Babak 4: Pertemuan di ruang Kepala Sekolah, di mana Aliya dinyatakan tidak lolos namun akhirnya dengan tegas memilih untuk tetap melanjutkan sekolah dan mondok di MA Miftahul Ulum.
3. Di mana saja setting berlangsung?
Ruang TU sekolah, area depan gerbang pondok pesantren, ruang kelas besar tempat ujian, dan kantor Kepala Sekolah MA Miftahul Ulum.
4. Bagaimana konflik dibangun?
Konflik dibangun melalui konflik batin Aliya. Ia merasa terbebani oleh ambisi besar ayahnya yang ingin ia masuk sekolah negeri favorit, sementara di sisi lain ada teguran dari Bu Nyai yang mengingatkannya tentang pentingnya menjaga agama di pesantren. Tekanan batin ini memuncak hingga membuat Aliya panik dan melakukan kesalahan teknis saat ujian.
5. Bagaimana akhir cerita?
Cerita berakhir dengan penyelesaian yang bahagia. Aliya berani menyuarakan isi hatinya untuk tetap bertahan di pondok pesantren dan melanjutkan sekolah di MA Miftahul Ulum. Pak Adi pun luluh, menerima keputusan tersebut, dan mendukung penuh pilihan anaknya untuk menjadi santri yang bersungguh-sungguh.


Komentar
Posting Komentar